Fiat Voluntas Tua

Doa Panik

| 0 comments

“Dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele”

Saat berkesempatan mengikuti pembaptisan seorang cucu warga paroki Blok Q, romo Maryono SJ menyampaikan homili hari ini tentang Doa Bapa Kami. Dikatakannya bahwa Doa Bapa Kami ini sering disebutnya doa panik. Kenapa? Doa Bapa Kami selalu dipilih umat saat ditunjuk untuk memimpin doa. Entah dia pengurus lingkungan, prodiakon, bahkan tuan/nyonya rumah yang mendadak diminta untuk memimpin doa, pasti memilih doa Bapa Kami karena sudah panik, tidak perlu susah-susah mikir dan semua orang pasti sudah hafal.

Kita memang sering tidak siap bila diminta untuk berdoa dimuka umum. Apa susahnya ya? Apa takut malu, takut salah, takut dikatakan jelek. Mengapa memimpin doa menjadi ‘momok’ bagi sebagian orang dan cenderung saling tunjuk-tunjukan…. akhirnya juga ditiru anak-anak, saling tunjuk. Maka terbitlah doa panik ini… Hhm, jangan kuatir saya juga seperti itu dulunya..

Tidak ada yang salah dengan doa Bapa Kami, apalagi untuk didoakan bersama-sama. Namun kita juga perlu memahami betapa dalamnya arti doa Bapa Kami ini. Doa ini menunjukkan betapa dekatnya Yesus kepada Bapa. Ia mengajarkan doa ini kepada kita, agar juga membangun relasi sedemikian dekatnya sehingga bisa memanggilnya sebagai “Bapa”.

Begitu dekatnya sehingga kita bisa paham apa kira-kira yang bisa membuat hati seorang Bapa itu senang dan sedih. Begitu dekatnya sehingga kita bisa merasakan kebahagiaan seorang Bapa dengan memandang matanya, tanpa perlu sepatah kata. Tanpa perlu interview dan interogasi. Bila kita mampu membangun relasi yang begitu dekat dengan seseorang, tanpa berbicarapun kita bisa memahami isi hatinya. Dari cara batuknya seorang istri bisa tahu apa yang dimaksud suaminya bila ia mendengar permintaan anaknya akan sesuatu hal.

Relasi yang dekat, tidak perlu penjelasan panjang lebar, tidak perlu kata-kata indah dan sebagainya. Semuanya sudah TST – Tahu Sama Tahu – istri tahu apa keinginan suaminya yang terpendam, Demikian pula seorang ibu bisa mengenal keinginan anak yang disayanginya kalau sudah memiliki hubungan yang sangat dekat.

Wajar kalau Yesus ingin kita berdoa tanpa bertele-tele, bukan tidak perlu berkata. Tetapi Yesus menginginkan kita mengenal Bapa seperti Ia begitu dekat dengan Bapa. Dengan demikian tanpa berkata-kata kita sudah saling tahu apa keinginan sang Bapa, dan sebaliknya Bapa pun memahami kebutuhan kita.

Semoga setiap hari kita meluangkan waktu untuk menyapa Bapa kita, berdiam diri dan menikmati kasihNya. Merasakan kehangatan cintaNya. Mensyukuri setiap hari baru yang diberikan dan penyertaanNya sepanjang hari ini. Dengan demikian, doa kita tidak lagi bertele-tele, kitapun tidak akan panik bila suatu saat diminta memimpin doa. Lha kalau sudah setiap hari ketemu Bapa, kok bisa panik  …

===============================================================================================

Bacaan Injil Mat 6:7-15

“ Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. . Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.) Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Leave a Reply

Required fields are marked *.