Fiat Voluntas Tua

Setelah Raib menjadi Rahib, sekarang Rahib menjadi Sohib (Dari Martin Suhartono,SJ)

| 10 Comments

Parkminster, 23 Maret 2008

Para keluarga dan saudaraku terkasih! Salam Damai!

Saya tak tahu apakah berita berikut ini menggembirakan atau menyedihkan bagi para keluarga dan saudaraku terkasih.

Mungkin bisa langsung disambungkan sebagai Bab baru pada kisah “Raib Jadi Rahib” yang pernah saya kirimkan kepada anda sekalian!

Kejutan Banjir, Banjir Kejutan

Demikianlah saya tinggal dalam keheningan dan doa di pertapaan Karthusian dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dan dari bulan ke bulan. Hidup dalam doa bukan berarti selalu penuh hiburan rohani lho ya,
karena kerap kali pula ada kesepian rohani. Bilamana kesepian rohani sedang melanda hati dan hari-hari terasa lambat berlalu, apalagi dalam iklim cuaca Inggris yang cenderung membuat orang jatuh dalam depresi macam-macam ini, saya lalu berjalan-jalan di kompleks pemakaman di tengah biara. Di sana ada seratusan kayu salib yang merupakan batu nisan makam rahib Karthusian; hanya kayu kosong tanpa nama karena demikianlah cara rahib Karthusian dimakamkan, seperti diungkapkan oleh St. Paulus “Kalian telah mati, dan hidup kalian tersembunyi dalam Allah bersama Kristus” (Kol 3:3). Di situlah dimakamkan seratusan rahib Karthusian dari Italia, Jerman, Perancis dan Inggris. Saya pun berdoa, “Wahai para rahib suci Karthusian, bila anda ingin saya menemani anda di situ, tolonglah doakan saya agar bertahan disini sampai mati!” Untungnya, tidak ada yang menjawab, kalau ada suara jawaban dari makam, saya malahan bisa kabur terbirit-birit ketakutan!

Keheningan doa terputus gara-gara kiriman email dari adik saya, Paul, diawal Februari 2008, yang memberitakan bahwa Jakarta (lagi-lagi) kebanjiran dan kakak Truus beserta keluarga musti mengungsi meninggalkan rumah mereka. Tahun lalu, saya juga mendapat berita serupa. Hanya saja tahun lalu, berita
itu hanya mengakibatkan saya bersedih dan berdoa lebih gencar untuk Truus sekeluarga. Kali ini, anehnya, berita itu membuat saya tak bisa tidur selama seminggu terus menerus. Selagi saya berbaring tanpa bisa tidur, ingatan dan pikiran melayang ke mana-mana, ke masa lalu, masa sekarang, masa depan, ke
neraka, ke api pencucian, ke bumi, dan ke sorga, melewati kenangan di bawah sadar maupun kesadaran. Saya seakan melayang-layang, ikut melaju bersama banjir bandang di Jakarta. Saya merenungkan kembali seluruh perjalanan hidup panggilan saya dan muncullah pertanyaan besar : “Apakah memang Tuhan menghendaki saya tinggal di pertapaan Karthusian ini seumur hidup ? ”

Barulah saya sadari bahwa ketika saya merasa terpanggil untuk menjadi pertapa, bayangan saya itu jauh sama sekali dari pola hidup pertapaan Karthusian. Saya lebih terdorong menjadi seorang pertapa
pengembara yang berjalan keliling untuk menyebarkan kasih Tuhan atau membawa orang pada kasih Tuhan. Atau pun bila berdiam di satu tempat, saya masih terbuka bisa dikunjungi banyak orang yang mungkin
membutuhkan pertolongan macam-macam. Gambaran saya adalah seperti “reshi” dalam tradisi Timur, tapi ya amit-amit bukan Reshi Dorna lah ya, atau pun seperti “staretz ” dan “poustinik ” dalam tradisi spiritualitas Gereja Timur /Ortodoks, yaitu pertapa yang hidup dalam ketersendirian dan kesunyian,
kesederhanaan dan kemiskinan, total bergantung pada Penyelenggaraan Tuhan semata, dalam doa dan laku-tapa, namun terbuka pada setiap orang yang mau berkunjung.

Nah, padahal pola kehidupan rahib Karthusian jauh amat berbeda dari gambaran saya itu. Kehidupan rahib Karthusian sama sekali terputus dari dunia luar. Kontak dengan orang lain hanya dibatasi pada saudara dekat, itupun dalam bentuk surat tiga bulan sekali. Tamu yang boleh berkunjung ke pertapaan Karthusian hanyalah saudara-saudara kandung para rahib ; tiga hari dalam setahun. Para rahib Karthusian tidak melayani konsultasi rohani apa pun ; yang bisa diharapkan adalah doa-doa mereka. Bahkan orang luar
yang mau ikut serta dalam liturgi ibadat harian Karthusian pun tak diperkenankan kecuali mereka saudara para rahib. Rahib Karthusian memang terfokus pada doa kontemplasi semata-mata ;lain-lain hal dianggap sebagai halangan atau distraksi. Itulah memang panggilan khas mereka. Berulang kali dalam sejarah, Sri Paus meminta para Karthusian untuk menerima bentuk kerasulan tertentu, seperti para rahib Benediktin yang menerima karya paroki dan sekolah, tapi sampai saat ini para rahib Karthusian berhasil menolak permintaan Sri Paus dan mempertahankan kemurnian panggilan mereka berdasarkan Statuta Ordo
Karthusian. Pernah ada seorang rahib Karthusian yang terkenal suci dan ketika meninggal dunia banyak orang berziarah ke makam beliau karena banyak mukjizat terjadi dengan perantaraan doanya ; akibatnya
keheningan biara terganggu oleh para pengunjung makam. Maka Romo Prior pun datang ke makam
rahib tersebut dan memerintahkan demi ketaatan suci agar rahib tersebut menghentikan segala mukjizatnya ; rahib almarhum itu pun taat, tak ada mukjizat lagi, dan aliran para peziarah pun berhenti sehingga
ketenangan biara Karthusian pulih kembali dan para rahib bisa berdoa lagi dengan
tenang dalam keheningan tanpa gangguan orang banyak !

Tadinya sempat terpikir oleh saya untuk mencoba hidup sebagaipertapa mandiri di bawah ketaatan kepada seorang Uskup berdasarkan Hukum Gereja kanon 603 atau mencoba menjadi rahib pertapa Kamaldoli, dari
rumpun keluarga rahib/rubiah Benediktin, yang memberi kemungkinan juga untuk menjadi pertapa
pengembara seperti St. Romualdus pendiri Ordo Kamaldoli. Tapi berdasarkan perenungan pribadi dan konsultasi dengan para pembimbing niat tersebut saya batalkan. Jelas dari kehidupan di sini bahwa supaya kehidupan religius dan keheningan doa terjaga memang butuh struktur pelindung tertentu.
Pertapa mandiri atau pun pengembara akhirnya menjadi terlalu sibuk karena kunjungan banyak orang dan tak luput dari godaan macam-macam karena hidup sendirian tanpa perlindungan biara mana pun. Akhirnya dalam keheningan doa saya pun melihat bahwa jalan yang terbaik adalah tetap tinggal sebagai
Yesuit: di situ kedua rahmat Tuhan bagi saya, yaitu karunia untuk berkontak dan menolong orang lain maupun karunia kontemplatif dapat terjaga dan tersalurkan dengan baik.

Semakin jelas pula saya alami bahwa dorongan ke keheningan yang selalu saya tafsirkan sebagai panggilan untuk hidup bertapa ini ternyata perlu ditafsirkan ulang sebagai undangan Tuhan untuk masuk dalam
keakraban yang lebih mendalam dengan Tuhan dalam status saya sekarang ini sebagai imam Yesuit dan tak perlu ditafsirkan sebagai panggilan Tuhan untukmengubah bentuk hidup atau pun pindah tarekat religius. Sewaktu kesadaran ini saya utarakan pada Romo Prior Karthusian, beliau pun langsung membenarkan dan
bercerita bagaimana seorang pemuda suatu hari datang ke pastor paroki di desa Ars, yaitu St. Yohanes Maria Vianney, dan bertanya, “Bapa, apakah saya punya panggilan menjadi rahib?” Pastor Vianney pun menjawab setelah merenung beberapa saat, “Oh ya, anda punya panggilan jadi rahib!” Pemuda itu pun bertanya lagi, “Kalau begitu, paling baik, saya ini masuk biaramana ya, Bapa?” Pastor dari Ars pun menjawab singkat, “Oh, nanti, nanti, bukan di dunia sini, tapi kelak di sorga!” Romo Prior pun menyimpulkan bahwa doronganbatin ke keheningan dan doa, betapa pun kuatnya, bukan berarti lalu orang harus masuk biara tertentu. Beliau menambahkan bahwa senang karena saya menemukan kembali panggilan saya sebagai Yesuit, tapi sedih karena kehilangan “gentleman” seperti saya (cielaa.. gentleman lho saya
ini! Lha yaiya lah, mosok gentlewoman! nanti malah nggilani!).

Sebetulnya Romo Prior, Romo Magister, dan Bapa Pengakuan saya disini tetapmelihat bahwa saya punya kualitas, kemampuan dan cukup fleksibilitas (kendati usia saya yang nyaris uzur ini!) untuk dibina sebagai
rahib Karthusian dan menganjurkan saya meneruskan tinggal di sini, tapi ya setelah lama saya bawa dalam renungan dan doa, saya toh merasa bahwa Tuhan memanggil saya kembali ke dunia sebagai imam
Yesuit. Maka sama seperti Tuhan Yesus, yang didorong Roh untuk ke padang gurun setelah baptisan Yohanes, tinggal sementara di padang gurun dan dicobai, lalu didorong lagi oleh Roh untuk kembali ke dunia, begitu pulalah kiranya riwayat singkat saya sebagai Dom Ambrose-Mary di pertapaan
Karthusian!

Nah, maka setelah enam bulan sebagai postulan Karthusian, dan tepat sembilan bulan sebagai novis Karthusian, saya melepaskan jubah Karthusian pada Minggu Paska 23 Maret 2008 ini. Dulu saya diterima sebagai postulan pada hari Natal 2006 sekarang saya cari hari baik keluar pertapaan pada hari
Paska 2008; kedua peristiwa ini merupakan rahmat kelahiran kembali bagi kita umat Kristiani. Semoga dengan demikian setelah sembilan bulan dalam kandungan jubah rahib Karthusian saya lahir baru kembali sebagai imam Yesuit. Amin.

Akhirnya, terima kasih banyak atas segala doa-doa para keluarga dan saudaraku sekalian, namun saya mohon dengan rendah hati, tetaplah berdoa untuk saya karena sebagai imam Yesuit yang berkarya di tengah
dunia, ada tantangan dan godaan yang berbeda daripada yang saya hadapi ketika berada dalam perlindungan tembok biara Karthusian.
Semoga kita dapat berjumpa lagi di waktu dekat.

Salam dan doa selalu,
Dom Ambrose-Mary
balik menjadi Martin Suhartono, S.J.,
Bukan lagi rahib tapi sohib (sahabat) Yesus, socius Iesu.

10 Comments

  1. Terus terang saya merasa sangat kagum dengan liku – liku perjalanan spiritual Romo Martin, saya kagum bagaimana dalam setiap liku perjalanan tersebut Romo selalu berusaha untuk mengedepankan hanya suara Tuhan dalam hidup Romo. Sepertinya kalau saya membaca cerita Romo, Tuhan dalam setiap percabangan hidup, Romo selalu bisa menemukan apa kehendak Tuhan dalam hidup. Saya iri Romo. Kadang – kadang saya bertanya dalam hidup saya apakah benar – benar ada suara Tuhan dalam hidup ini yang bisa secara jelas saya tangkap. Mohon Romo mendoakan saya dalam percabangan hidup ini, apa yang harus saya perbuat. Kalau ada waktu bisa kunjungi blog saya di http://www.genjus.wordpress.com
    Terima kasih,
    Berkah Dalem.

  2. Luar biasa … Sungguh sebuah kisah “Tarik-Menarik” yang menarik untuk kita renungkan

    Bu Ariani yang baik,

    Memang dalam kehidupan ini kita sering bertemu dengan persimpangan yang membingungkan, belok kiri atau ke kanan. Pilih belok kiri karena “jalannya beraspal” , tapi malah nyasar … sebenarnya Allah menginginkan belok kanan walaupun “jalan agak ber lubang-lubang”, karena mungkin Allah mempunyai maksud agar kita selalu ingat akan keberadaanNya, tapi ternyata malah sampai “tujuan”

    Pertanyaan saya bu, mungkin ibu sudah menemukannya, Bagaimana caranya agar tahu bahwa Allah menginginkan “belok ke kanan” tadi ?

    Bu, apakah beliau sudah ada di Indonesia ? bila berkenan saya mohon diemail alamat email beliau

    AMDG

  3. Terima kasih untuk peneguhannya mbah yustinus, juga mbak Nana dan mbak Ratna. Wah anda berdua namanya sama dengan saya dong, nama kecil saya Nana juga. Gak cuma nama, tapi rupanya kita satu pandangan juga. Memang yang namanya ‘Ratna’ harus mau ‘diasah’ untuk jadi permata mutu manikamNya ya.

    Mbah Yustinus, menemukan dan memilih antara jalan yang kudus, jalan yang benar, jalan yang Tuhan maksud, the destiny, memang tidak mudah. Orang manado bilang “mengalir Jo”. Ada yang bilang hidupnya mengalir aja, kemana aja seperti air. Ikuti ajalah, mau senang mau susah ya dihadapi.

    Buat saya yang gak punya pengalaman hidup sebelumnya (lha wong baru sekali dan belum selesai), membaca kisah orang-orang kudus adalah menarik. Semua jalannya unik, tapi satu hal yang sama, dan saya coba menirunya; yaitu mereka tetap setia. Setia membangun relasi dengan Tuhan, setia berdoa, merenungkan SabdaNya juga matiraga, setia pada komunitas serta setia dalam Sakramen, karya dan perutusan. Sehingga apapun yang terjadi, semakin sulit jalannya justru mendekatkan kita pada Tuhan.

    Tandanya apa kalau kita gak salah jalan? Kehidupan para martir, para nabi dan para rasul tidak ada yang mudah, tapi mereka semua tetap merasakan kehadiran Allah dalam hatinya. Persis seperti janji Nya: Aku menyertai kamu sampai akhir jaman. Artinya, damai dan sukacitaNya ada bersama kita selalu. Saat sedih dan kecewa, Roh Penghibur hadir menyejukkan hati. Saat bingung dan khawatir, Roh Penolong setia menemani. Maka berbahagialah mereka yang selalu memberi tempat bagi Roh Allah dalam setiap keputusan. Kadang yang kita pikir ‘salah’ dan gak betul, justru itulah yang Tuhan mau kita lakukan. Kadang Tuhan mau kita lewati jalan yang terjal dan berbatu, karena lebih cepat dalam pembentukan karakter kita, daripada jalan mulus tapi berkelakkelok dan lamaaaa banget. Itulah alasan saya juga mengapa blog ini saya beri nama Fiat Voluntas Tua. Apa mau saya udah gak penting, karena saya pun gak tahu kemana ujungnya; yang penting adalah apa yang Tuhan inginkan dalam hidup saya. Dan so pasti Tuhan akan berikan yang paling baik buat anda dan saya…. Walau akhirnya keputusan ada di tangan anda dan saya juga. AMDG – RA

    PS tentang romo martin, nanti saya sampaikan via japri ya

  4. romo martin ytk.,
    anda mungkin masih ingat saya, kita pernah se rumah di seminari kanisius jakarta, tahun 1975, waktu itu saya ‘mendampingi’ perjalanan anda sebagai seorang ‘kakak’, kemudian kita pernah bertemu waktu anda membimbing retret para aktivis komisi keluarga keuskupan bogor sekitar tahuan 2000-an. saya mendengar banyak tentang perjalanan rohani anda, terakhir saya mendengar bahwa anda hendak menjadi rahib karthusian, namun kini anda kembali menjadi jesuit, selamat. saya mendengar dari romo warno bin harjo bahwa anda bertugas di solo (purbayan), selamat berkarya kembali semoga anda mengakhiri perjalanan anda sebagai jesuit. sekali lagi selamat dan terimakasih atas sharing anda yang luar biasa. shalom.

  5. Makasih Romo Martin Suhartono SY, yang telah memimpin Misa Perdana di SMA Yosef Solo pada tanggal 19 Juli 2008. Pencerahan yang menghangatkan kita semua untuk selalu intropeksi dalam kehidupan.
    Salam Hangat untuk saling meneguhkan dari keluarga besar SMA Yosef Solo.

  6. Berbahagialah rekan-rekan di solo karena romo martin sementara ini memang tinggal di paroki St Antonius Purbayan http://paroki-purbayan.blogspot.com/ sehingga anda bisa mendengar langsung kesaksiannya. Semoga kita juga belajar dan senantiasa melatih serta meningkatkan relasi yang semakin intim dengan Tuhan agar selalu mengenali rahmat dan arah panggilanNya dalam hidup kita.

    Berkah Dalem – RA

  7. Salam sejahtera,
    Bisa minta tolong, saya minta alamat e-mail dari P. Dom Ambrose-Mary / Martin Suhartono, S.J. bagi yang mengetahuinya. Terima kasih.

  8. Terima kasih kunjungannya pak John, Silahkan anda menghubungi paroki Purbayan di Solo dengan alamat blog di atas. AMDG

  9. Selamat datang dan berjumpa lagi dengan Romo Martin Suhartono. Kapan-kapan kalau saya pulang ke Solo bisa curhat. Tentu romo akan bikin buku lagi. Semoga!

  10. I find myself coming to your blog more and more often to the point where my visits are almost daily now!

Leave a Reply to Stanislaus Nugroho Cancel reply

Required fields are marked *.