Fiat Voluntas Tua

Takut ? Please dong ah..

| 0 comments

walk on the water Aku ini, jangan takut!

Anak-anak yang sejak kecil sering ditakut-takuti ketemu satpam, polisi, binatang, hantu; sering menemui kesulitan mengatasi dan menghilangkan ‘bayangan seram’ tersebut saat mereka bertambah besar. Kebiasaan yang dilakukan supaya si kecil cepat diam dan tidak rewel ,justru akhirnya berpengaruh pada kepribadian sang anak. Malah kadang sudah menjurus agak ‘parno’. Seorang mahasiswa yang badannya bongsor, bisa menjerit setengah mati melihat kecoa. Ada juga anak SMA yang masih takut akan ruangan gelap, selalu minta adiknya menemani bila harus pergi mengambil sesuatu di tempat gelap. Kalau sudah begini, berbagai terapi psikologis perlu dilakukan, paling tidak menyadarkan yang bersangkutan bahwa ketakutannya tidak beralasan sama sekali.

Dalam Kitab Perjanjian Baru ada 18 kali disebut Jangan Takut. Dalam dua minggu oktaf Paskah, juga disebutkan kata “jangan takut”. Saat Maria Magdalena datang kekubur, malaikat berkata Jangan Takut. Saat Yesus menampakkan dirinya pada murid-murid, Ia berkata Jangan Takut, ini Aku. Demikian pula saat Maria dikunjungi Malaikat Gabriel, sapaan pertamanya “Jangan Takut”. Demikian halnya saat Jesus menyusul murid-muridNya yang ada ditengah danau, Ia berjalan dalam kegelapan malam. Ia dikira hantu juga sehingga Ia mengatakan “Jangan Takut Ini Aku”

Kehadiran Tuhan berikut kabar baik tentang Dia, tidak pernah mendatangkan ketakutan, bahkan yang ada hanyalah sukacita dan damai sejahtera. Dengan kehadiranNya maka ketakutanpun hilang dan sirna. Kebangkitan Paskah adalah kabar sukacita terbesar, sudah selayaknyalah menghapuskan segala kekhawatiran dan ketakutan kita akan kematian kekal.

Adakah yang kita takutkan dalam kehidupan ini? Biasanya kita takut kehilangan apa yang melekat pada kehidupan kita. Kita takut kehilangan ‘kenyamanan’ kita, apalagi kalau melihat di sekeliling kita, segala hal bisa menggoncangkan ‘comfort zone‘ kita. Sama seperti murid-murid tanpa Yesus mereka terombang-ambing dalam ketidakpastian. Tapi begitu Yesus naik di kapal, saat itu juga mereka sampai di tujuan. Hilang lah segala ketakutan dan ketidakpastian begitu Yesus tinggal bersama mereka.

Tuhan Yesus menghampiri murid-murid yang terombang-ambing, dan mereka membawa Ia masuk kedalam perahu mereka. Providentia Devina, adanya penyelenggaraan Ilahi, adanya penyertaan Tuhan dalam kehidupan orang beriman, perlu ditanggapi dengan kita senantiasa menyambut dan bersyukur untuk kehadiranNya dalam hidup kita. Maka saat itu juga kita sampai pada tujuan, mendapatkan damai sejahtera Allah kembali menggantikan ketakutan dan kekhawatiran.

Kalau kita sudah tinggal dalam damai sejahtera Allah, masa sih kita juga menakut-nakuti orang lain?  Masih juga menakut-nakuti anak-anak dengan berbagai cara?  Ataukah kehadiran kita menimbulkan ketakutan bagi orang lain? Please dong ah…

===============================================================

Bacaan ( Yoh 6:16-21)

“Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke
danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari
sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sedang laut
bergelora karena angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira
dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air
mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. Tetapi Ia berkata
kepada mereka: “Aku ini, jangan takut!” Mereka mau menaikkan Dia ke
dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang
mereka tujui”

Leave a Reply

Required fields are marked *.