Fiat Voluntas Tua

Muna Besar Mulai Dari Muna Kecil

| 1 Comment

“Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu”

Sebagai  pengajar dan pewarta, ada satu topik yang untuk saya paling sulit untuk dibawakan yaitu tema sekitar ‘integritas’. Bukan karena banyak ayat yang harus di hafal, bukan juga karena outline yang berat. Tapi justru apa yang diajarkan memang harus benar-benar dilakukan. Walaupun tema lain juga memang harus diwartakan dengan spirit yang sama “do what you preach’, tapi tema ini begitu menohok saya  sebagai pewarta dan pengajar. Bener sekali yang dikatakan dalam  Ibrani 4:12; Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; menjadi pelaku Firman memang tidak mudah, apalagi kalau kita melayani menjadi pengajar dan pewarta. Duuuh….

Hal yang paling simpel sering terjadi justru bila kita berada disekitar orang-orang yang kita cintai, orang-orang yang ada disekitar kita setiap harinya. Pasangan hidup kita, anak-anak, rekan kerja, boss dan bahkan OB. Mereka lihat keseharian kita, mungkin juga mereka dengar dari orang lain apa yang kita katakan, dan mereka tahu persis apa yang kita lakukan dan katakan setiap harinya. Mereka lah yang paling tahu seberapa ‘muna’ kita.  Mana ada sih orang mengaku ‘munafik’?

Memang enak sekali menegur kiri kanan, tapi kadang kita lupa bahwa ada kaca seribu sudut disekitar kita yang seharusnya membuat kita memeriksa diri sendiri dulu sebelum menegur orang lain. Termasuk setiap kali menulis renungan seperti ini saya harus sungguh-sungguh siap untuk serangan balik. Maklum, suami dan anak-anak juga akan membacanya di blog saya suatu saat. Saya yakin sekali, karena si bungsu pernah protes namanya disebut di salah satu renungan saya. Melanggar HAM katanya… weleh…wokeeeh d, lain kali saya harus minta ijin dulu sebelum menyebutkan namanya dalam tulisan saya.

Sayangnya ‘muna’ besar dimulai dari yang kecil-kecil yang sering sekali kita langgar, dan akhirnya menjadi biasaaaa sekali. Akhirnya kita kemudian mengatakan “  gpp sekali-sekali dilakukan”. Kita perlu belajar dari kejatuhan si raksasa Goliat yang besar itu justru jatuh  dikalahkan karena kerikil yang dilontarkan Daud yang masih kinyis-kinyis. Maka marilah kita berhati-hati dan belajar setia dari hal yang kecil, bahkan dengan siapapun yang kita jumpai. Gak usah pake ‘topeng’ dimana-mana, nanti malah pusing sendiri. Katakan sesuatu dengan tulus dan terbuka terhadap kritikan orang lain.

Demikian pula pada masa berlebaran saat ini, kita sungguh-sungguh menggunakan kesempatan ini untuk mengampuni semua kesalahan kerabat kita serta  tidak lagi mengungkit-ungkitnya dikemudian hari. Bukan sekedar bunga-bunga lebaran berbasa-basi ikut mengucapkan “Mohon maaf lahir batin”. Ucapkanlah dengan tulus, dan akui apa yang menjadi kelemahan kita pada teman-teman dan kerabat terutama saudara sendiri. Justru kesalahan sering terjadi pada orang-orang yang kita jumpai setiap harinya. Mana mungkin sih kita berbuat salah kepada mereka yang berjumpa setahun sekalipun jarang?  Kalau kita meminta maaf, katakan juga dengan tulus. Kalau kita memberikan maaf juga katakan dengan tulus. Tidak ada lagi pembicaraan tentang permasalahan masa lalu yang hanya membuka luka lama. Kita menjadi terbiasa untuk ‘muna’ berpura-pura memaafkan. Oleh karenanya mari kita  mohon pimpinan Roh Kudus agar kita bisa melangkah dengan hati damai tiada beban dihati, tanpa menyimpan segala kesalahan orang lain.

===============================================================================================

Bacaan Injil Luk 6:39-42

“Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang? Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”