Fiat Voluntas Tua

Hari Anak Nasional: Dipestakan atau Disikapi?

| 0 comments

Anak tetap lah anak, mau dia ada di rumah gedongan, di gang-gang sempit ataupun di jalanan. Keinginan bermain, menggoda teman, berkejar-kejaran dan bahkan bermain hujan adalah kesukaan anak-anak. Hanya saja untuk anak-anak tertentu hak mendasar inipun sulit dipuaskan, bahkan diusia dini mereka dimasukkan sebagai alat ekonomi pencari uang. Sedih juga melihat liputan di Metro TV, anak-anak miskin dari indramayu, dibawah usia 10 tahun, diijinkan menggelandang di Jakarta, agar bisa mendapat makanan lebih baik dari pada dikampungnya. Mereka tidak mau sekolah, tangannya capek dipakai menulis terus katanya. Mending dijalanan malah dapat duit. Memang lumayan untuk ukuran mereka, bisa bayar ’sewa kontrakan’, main game dan beli rokok !

Kemarin saat menghadiri perayaan Hari Anak Nasional di Tennis In Door Senayan, saya merasakan aura sukacita luar biasa. Saya datang kesana gak sengaja, hanya karena kawan aktivis berhalangan, maka saya diminta mewakili Gempita-Gerakan Iman Peduli Jakarta. Tengok kiri kanan yang duduk di VIP ternyata saya sendiri yang tidak pakai pakaian dinas. Halah? Acara nya sih sebentar, cuma sejam tapi meriah banget. Bukan karena ada Bang Foke dan Mpok Tati disana. Bukan karena panggung yang wah dan Project Pop yang ‘gw banget’ (Heran…..udah pada berumur, tetap aja kelakuannya bisa diterima anak-anak SD sampai SMA. Salut untuk alumni UNPAR… halah..narsisnya keluar d 8)

Tapi menurut saya inilah ‘panggung’ yang sungguh-sungguh menjadi pesta bagi anak-anak yang tidak pernah memimpikan dipestakan dan mengisi acara pesta buat mereka sendiri. Ada ratusan anak ikut terlibat dalam berbagai tarian kreasi disetiap lagu-lagu Project Pop, menari dengan senyum ceria serta berkostum colourful. Ternyata mereka bukan dari sekolah-sekolah papan atas, bukan juga dari sanggar sekolah tari, tapi ternyata… (baca disini)

Leave a Reply

Required fields are marked *.