Sumber: Catholic Update ©1989 – A Walk Through the Mass; www.americancatholi c.org Disesuaikan dengan : 1.”Tata Perayaan Ekaristi” oleh Konferensi Waligereja Indonesia; Penerbit Kanisius; 2. Katekismus Gereja Katolik Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell. net/yes
C. KOMUNI
Bapa Kami
Kita mempersiapkan diri untuk makan dan minum di meja perjamuan Tuhan dengan kata-kata yang diajarkan oleh Yesus “Berilah kami rejeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.”
Embolisme
Imam mengucapkan doa yang diakhiri dengan “…….sambil mengharapkan kedatangan Penyelamat kami, Yesus Kristus.”
Sebab Engkaulah Raja
Doa imam disambut oleh umat, “Sebab Engkaulah Raja yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya.”
Doa Damai
Sungguh sadar bahwa komuni (dari bahasa Latin ‘communio’ berarti persekutuan) adalah tanda serta sumber rekonsiliasi serta persekutuan kita dengan Tuhan dan dengan umat satu dengan lainnya, maka kita membuat gerak-isyarat persekutuan dan pengampunan kepada mereka yang berada di sekeliling kita dengan berjabat tangan sebagai tanda damai.
Pemecahan Hosti
Imam memecahkan Hosti diiringi dengan seruan Anak Domba Allah.
Persiapan Komuni
Kemudian Imam memperlihatkan kepada kita Tubuh Kristus dan mengundang kita untuk datang ke meja perjamuan: “Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya.” Maka, bersama imam, umat menjawab, “Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.” Umat mempersiapkan diri dengan sikap doa pribadi, kemudian maju ke altar dalam suatu prosesi.
Penerimaan Tubuh (dan Darah) Kristus
Sama seperti Tuhan memberi makan nenek moyang kita dalam perjalanan di padang gurun, demikian juga Tuhan memberi kita makan untuk perjalanan hidup kita. Kita berjalan mendekati imam yang membagikan Hosti sambil mengucapkan “Tubuh Kristus,” dan kita menjawab “Amin.” (Dalam kesempatan khusus imam menawarkan piala berisi anggur sambil berkata “Darah Kristus.” Sekali lagi kita menjawab “Amin.”)
Pembersihan (Bejana)
Setelah komuni selesai, Imam membersihkan patena dan piala.
Saat Hening
Kemudian kita berdoa dengan hening dalam hati, mengucap syukur dan memuji Tuhan serta mohon berkat dari sakramen yang telah kita terima.
Madah Pujian
Umat menyatukan suara, pikiran dan kehendak dalam lagu-lagu pujian, karena Tubuh dan Darah Kristus telah mempersatukan kita.
Doa Sesudah Komuni
Imam menyatukan semua doa kita dalam Doa Sesudah Komuni yang kemudian kita jawab “Amin.”
BAGIAN KEEMPAT : RITUS PENUTUP
Pengumuman
Akhirnya kita siap untuk kembali ke dunia di mana kita tinggal. Beban yang kita tinggalkan di depan pintu gereja untuk mengikuti Ekaristi, sekarang kita kenakan lagi – tetapi sekarang kita telah dikuatkan oleh Ekaristi dan komunitas gereja. Mungkin ada pengumuman-pengumuman untuk mengingatkan kita akan kegiatan-kegiatan penting di paroki.
Amanat Pengutusan
Umat mendengarkan amanat perayaan yang disampaikan secara singkat oleh imam.
Berkat
Kemudian imam berkata, “Tuhan sertamu” – kali ini sapaan ritual ini merupakan salam perpisahan.
Pengutusan
Kita menundukkan kepala untuk menerima berkat. Ketika imam menyerukan Tritunggal Mahakudus – Bapa, Putera dan Roh Kudus – kita membuat tanda salib. Kemudian imam mengakhiri Misa dengan berkata: “Marilah pergi! Kita diutus” dan kita memberikan jawaban “ya” secara liturgi, “Amin.”
Perarakan Keluar
Seluruh umat memberi hormat kepada altar. Imam dan para pelayan meninggalkan ruang altar.
Kita pulang dan meninggalkan gereja – tetapi kita membawa misi bersama kita. Pasangan yang baru saja menikah meninggalkan upacara pernikahan tetapi mereka membawa pernikahan bersama mereka. Dan apa yang terjadi berhari-hari bahkan bertahun-tahun kemudian setelah pernikahan memberi makna yang lebih mendalam pada simbol-simbol yang saling mereka tukarkan dalam upacara pernikahan (misalnya cincin kawin).
Sama halnya dengan Ekaristi. Apa yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari memberi makna yang lebih dalam pada ritual yang kita rayakan dalam Misa. Dengan memikul salib kita sehari-hari bersama Dia yang disalibkan, kita menemukan makna yang lebih dalam dari roti yang terpecah. Dengan mencurahkan cinta kasih kita kepada mereka yang miskin papa serta terasing, kita menemukan makna yang lebih dalam dari piala yang tercurah. Hanya dengan mewujudkannya dalam kehidupan kita sehari-hari makna seutuhnya dari ritual Misa menjadi jelas bagi kita.