Fiat Voluntas Tua

Mengampuni Sampai Bosan

| 1 Comment

“Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?”

Kata orang keledai adalah binatang bodoh, saya sendiri tidak yakin dimana dasar ilmiah yang mendukungnya. Apakah sudah ada test IQ atau karena ia hanya ‘lulut’ tanpa pernah punya inisiatif dikatakan ‘bodoh’? Idiom ini sering dipakai dalam peribahasa “keledai tidak akan jatuh dilubang yang sama dua kali”. Artinya saking bodohnya, keledai bisa terperosok tidak melihat lubang didepannya. Tapi sebodoh-bodohnya ia tidak akan jatuh lagi bila melewati jalan tersebut. Ia akan lebih berhati-hati. Jadi sebenarnya tidak bodoh kan?

Herannya kita sering mengatakannya bila melihat orang lain berbuat kesalahan yang sama, berdosa yang sama dan berulang kali. Tapi lupa, bahwa kita sendiri juga melakukan kesalahan yang sama… berulang kali juga. Jadi apakah kita lebih bodoh dari keledai? Tidak juga karena manusia adalah ciptaan yang paling tinggi dan sempurna diantara ciptaan Tuhan yang lainnya. Tetapi yang membuatnya terlihat ‘bodoh’ dihadapan Tuhan adalah karena kekerasan hati kita sendiri.  Justru kita sudah tahu perbuatan itu salah, berdosa, tapi setelah dilakukan… jadi ketagihan. Mana ada sih dosa yang tidak enak? Menyontek itu enak, makanya doyan. Gak usah kerja keras dapat nilai lumayan. Korupsi sama juga, makanya bisa berkali-kali sebelum ketahuan.

Maka kalau sampai kita marah kepada orang lain yang bersalah kepada kita berkali-kali, wajar kalau kita juga akan bertanya seperti Petrus : Berapa kali aku harus mengampuni? Aturan agama orang Yahudi boleh mengampuni sampai maksimal 3 kali. Jadi kalau sampai 7 kali maka Petrus sudah lebih baik dari aturan agamanya. Tapi ternyata Jesus menuntut lebih banyak lagi. Ampunilah terus menerus sampai saudara kita itu berhenti melakukannya. Halaaah.. berat bener ya?

Saya mencoba berhitung berapa banyakkah 70 puluh kali 7 itu. Misalnya seseorang anggota lingkungan meminjam uang kita karena saudaranya sakit. Ternyata ketahuan ia berbohong bahwa uang tersebut dipakai untuk hal yang lain. Lain kali saat kita berjumpa  dengannya ia berbohong lagi tentang hal lainnya. Dua kali, dan demikian seterusnya. Nah kalau saja kita bertemu dengannya setiap minggu, maka 70 x 7 = 490 minggu atau setara dengan 9-10 tahun !

Wah memang butuh kesabaran luar biasa untuk tetap mendengarkan, tetap mengingatkan sang pembohong untuk tidak berbohong lagi, tetap menganggapnya teman dan … tetap mendoakannya. Hanya mereka yang memiliki kasih Allah lah yang mampu bertahan menghadapi orang seperti ini. Tapi bukankah kita juga sering melakukannya pada Tuhan kita sendiri? Melakukan kesalahan yang sama berulang kali? Padahal tentu ada orang-orang yang bergantian mengingatkan dan menyapa kita akan kesalahan kita tersebut? Mereka pun digerakkan Roh Allah, hanya untuk menyatakan “Seseorang” diatas sana tetap sabar menanti dan mengingatkan kita akan kesalahan kita. Ia senantiasa memberi kesempatan kepada kita untuk berhenti dan bertobat dari kesalahan kita.

Jadi kalau kita sudah mengalami kemurahan hati Allah yang begitu sabar mengingatkan kesalahan kita sampai ribuan kali, masa sih kita tidak bisa mengampuni orang lain sampai 7 kali, 20 kali, 50 kali, 100 kali?  Kapan saja kita bisa masuk ruang pengakuan dosa, maka sebaiknya kita juga siap mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita, tetap tersenyum, tetap mengingatkan dan tetap mendoakan mereka dan menganggap mereka teman yang pasti juga dicintai Tuhan. Tetap menganggap dan memberi kesempatan bahwa (siapa tahu) besok dia akan berhenti dari kesalahannya, karena banyak yang mengasihinya dan juga mendoakannya.

Kalau memang kita disakiti dan dilukai begitu dalam, bisakah kita tetap berdoa BAPA KAMI dan mengatakan “ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami” ? Atau beranikah kita meneladani Jesus dengan berdoa dan mengatakan “”Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”  ? (Luk 23:34). Kita mungkin marah kalau disamakan dengan keledai, tapi memang kenyataannya lebih sering kita bertindak tanpa sadar lebih dari keledai … hiks…

==================================================================
Bacaan Mat 18:21-35

“Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.

Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!Maka sujudlah kawannya itu  dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.

Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

One Comment

  1. siang bu slm kenal sy mau shere tentang mengampuni, tahun depan kami akan menikah namun sekarang berantakan oleh karena ramalan dari seseorang yang mengatakan kami akan hidup menderita selamanya, kekasih sy sdh memutuskan bahwa kita tidak berjodoh, jujur hati sy hancur kami sdh bertunangan dsb, harus kalah oleh ramalan, sy pun bertanya kepada Tuhan ” Tuhan mengapa Engkau ijinkan ramalan itu mengalahkan keyakinan kekasih syi sbg anak Tuhan, mengapa ada orang yg tega menghancurkan kebahagian orang lain dng meramal kami tidak berjodoh sehingga menggoyahkan iman kekasih sy, apa yg harus sy lakukan berjuang dengan doa karena sy merasa ramalan itu kuasa kegelapan, bagaimana dengan peramal yg telah banyak membengkokkan iman anak2 Tuhan, mohon ibu mendoakan sy agar mampu mengampuni peramal tsb, saat ini apa yg sebaiknya sy lakukan? trima kasih atas perhatiannya bu ratna Tuhan Jesus memberkati

Leave a Reply

Required fields are marked *.