Fiat Voluntas Tua

Perlukah Kita Mendoakan Para Pastor? (1)

| 1 Comment

Selamat Pagi untuk teman2 milis Ytk,

Saya terinspirasi untuk menulis email ini setelah menerima sebuah email sahabat seorang Romo yang mohon untuk dibantu dalam doa.  Banyak awam yang mengira bahwa godaan paling berat hidup seorang Romo adalah wanita. Banyak pula kaum pria, khususnya para bapak2, yang beranggapan bahwa kalau saja Vatikan mengijinkan Romo menikah maka selesai sudah berbagai permasalahan kehidupan Romo.

Benarkah demikian? Benarkah masalah wanita merupakan akar masalah dari semua persoalan yang harus dihadapi para Romo? Saya tidak pernah mengerti persoalan hidup seorang Romo kalau saja saya tidak mempunyai kakak kandung yang menjadi Romo. Awalnya, saya berpikir apa sulitnya menjadi Romo atau biarawan-biarawati? Seluruh kebutuhan dipenuhi. Mereka tidak harus menanggung hidup keluarga. Mereka tidak harus terlibat dalam hiruk pikuknya dunia kerja, dll. Mungkin tidak terbayangkan oleh awam pergolakan yang harus dihadapi para Romo mulai dari masalah ketidakserasian dengan umat, dengan rekan pastor, dengan komunitas bahkan dengan keuskupan. Semuanya ini harus mereka telan dan pendam sendiri di dalam hati.

Kalau kita sebagai awam mudah curhat dengan pasangan hidup atau teman dekat, tidak demikian halnya dengan para Romo. Kakak (Romo) hanya bisa curhat kepada saya sebagai adik, itupun kalau hatinya sudah benar2 ‘sumpek” (bahasa Jawa untuk kata ‘galau’).  Awalnya, saya selalu menyalahkan beliau yang memang punya temperamen keras. Justeru di saat2 terakhir beberapa bulan sebelum beliau meninggal saya baru mulai merasakan bahwa Romo jugalah manusia biasa. Artinya, Romo juga manusia sosial yang perlu teman dalam kehidupan, teman untuk berbagi rasa, teman untuk mendengar serta sahabat2 yang secara ikhlas mau mengerti persoalan mereka!

Air mata tak terbendung ketika saya menggantikan rosario yang ada di tangan jenasah kakak Romo dengan rosario kesayangannya. Beliau sangat bangga ketika saya memberi oleh2 rosario terbuat dari ranting mawar asli buatan biarawan-biarawati Itali.  Rosario itulah yang ia genggam dalam perjalanan menghadap Sang Penciptanya. Tangannya dingin dan kaku mengingatkan saya bahwa semuanya sudah berlalu. Mulutnya tertutup rapat dan kelu mengingatkan saya bahwa sebagai seorang Romo beliau harus banyak menutup mulut walau hati sedang kalut. Hidung ditutup kapas mengingatkan saya bahwa ziarah kehidupannya selesai sudah.

Saya menyesal semasa hidupnya tidak banyak memberikan ruang, waktu dan hati yang tulus untuknya berbagi rasa. Saya menyesal ketika mengingat apa susahnya membuka telinga dan mendengar dengan jernih keresahan hatinya. Dalam hidup ini, keresahan dan kegalaun terasa kian menghimpit ketika tidak ada lagi tempat untuk berbagi rasa, tidak ada lagi telinga yang bersedia mendengar!

Kita acapkali datang mengeluh dan mohon doa Romo. Kita sering berdoa bagi ayah dan ibu, bagi bagi suami dan isteri, bagi anak, bagi menantu dan cucu, minta rejeki, minta kesehatan … dst … dst … doa yang orientasinya ego sentris. Beberapa kali kita secara khusus berdoa dan bermatiraga bagi para Romo dan para biarawan-biarawati kita? Mampukah dan maukah kita menyediakan waktu, pikiran dan hati yang terbuka serta telinga yang mendengar bagi keluhan mereka?

Di sebuah Paroki, ada kumpulan para bapak yang menyediakan diri dan waktu untuk secara berkala menemani para Romo. Kumpulan para bapak itu juga secara periodik berkumpul untuk mendokan para Romo. Saya tidak tahu apakah kumpulan para bapak itu tetap eksis. Saya berpikir, walaupun anggota milis ini tersebar luas di seluruh nusantara, namun dengan kemajuan teknologi email kita tetap dapat berkomunikasi dan secara khusus mendoakan para Romo dan biarawan-biarawati kita. Bukankah kita tidak harus berkumpul secara fisik untuk berjamaah mendoakan mereka?

Salam -Frans Gunterus

Red: Mari kita doakan setiap romo yang kita jumpai da berkarya disekitar kita dengan menyebut namanya satu persatu dalam doa kita.

One Comment

  1. Saya baru sadar begitu memandang Pastur sbg pribadi plus melebihi manusia pd umumx krn telah ditempa pribadinya.Hingga saya lupa bahwa mereka masih mempunyai sisi manusiawi dimn bs merasakan kegalauan dlm kehidupannya.Kalau sblmnya saya terlalu banyak meminta pelayananx skrg sy jg harus bisa menjadi sahabatnya yg bisa ikut merasakan apa yg pastur rasakan.Saya ingin juga bisa memberikan hati yg tulus ntk menemanix dalam perjalanan kepasturannya.Mari sebagai umat kt bersama sama menciptakan iklim yg balance,agar Pastur merasakan ikatan kasih yang kuat dari umatnya

Leave a Reply to Amin rahwati Cancel reply

Required fields are marked *.