Fiat Voluntas Tua

Jasmaniah vs Rohaniah

| 0 comments

Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi

Manusia memang sulit memahami hal-hal yang bersifat rohaniah. Ada semacam tabir yang menutupi hatinya sehingga hasrat duniawi menjadi lebih dominan. Ketika seorang pemuda dihadapkan pada dua pilihan, pemudi yang cantik rupawan atau pemudi yang baik hati, maka pemuda itu cenderung memilih yang cantik, dengan berbagai dalih untuk membenarkan pilihannya itu. Tetapi ketika pemuda itu dihadapkan pada pilihan, “Mau kaya tapi tidak sehat” atau “sehat tapi tidak kaya”, pemuda itu sulit menentukan pilihannya. Bisa jadi ia akan menjawab yang kedua tetapi dalam hatinya sesungguhnya ia memilih yang pertama.
Ada banyak orang yang mengorbankan kesehatannya, bekerja untuk menghimpun kekayaannya, tetapi kemudian menghabiskan kekayaannya itu untuk memperoleh kesehatan. Ini memang pilihan sulit, karena kedua pilihan itu merupakan pilihan jasmaniah.
Ketika salah satu pilihan adalah jasmaniah dan pilihan lainnya adalah rohaniah, kita cenderung memilih yang jasmaniah. Ketika kedua pilihan adalah rohaniah, kita enggan untuk memilih.

Saat doa umat, lebih sering saya mendengar intensi untuk keperluan jasmaniah. Doa untuk keperluan rohaniah dipanjatkan untuk orang yang sudah meninggal. Untuk yang masih hidup, lebih banyak doa untuk keperluan jasmaniah, seperti ulang tahun, agar lulus ujian, diberi kesembuhan, dan sebagainya.

Seperti itulah orang-orang yang mengikuti Yesus sampai ke Kapernaum, mereka berharap Yesus bisa memenuhi kebutuhan jasmaniah mereka, sebagaimana yang telah dilakukan Musa. Mereka hanya memikirkan kebutuhan perut semata. Ada tabir yang menutupi hati mereka sehingga tak mampu melihat roti hidup yang disediakan. Hanya dengan roh Allah tabir itu akan tersingkap. Roh Allah akan bersemayam di hati kita kalau kita percaya kepada-Nya dan mentaati segala perintah-perintah-Nya.

Pertanyaannya, jika roh Allah telah bersemayam dalam hati kita, salahkah jika kita masih tetap berharap pertolongan-Nya untuk kebutuhan-kebutuhan duniawi kita? Jelas tidak. Yesus itu sumber belas kasih, dan karena belas kasih-Nya itulah Yesus berkenan menolong kita.
Pertolongan Allah seringkali datang melalui orang lain, bisa jadi datangnya dari orang baik, bisa jadi juga dari orang jahat.
Dengan iman, kita tahu bahwa pertolongan itu berasal dari Allah, tidaklah penting ekspedisi yang digunakan untuk mengirim pertolongan itu.
Begitulah yang ingin disampaikan oleh Yesus, bahwa pertolongan yang diberikan oleh nabi Musa itu juga berasal dari Bapa di Surga, melalui perantaraan nabi Musa. Ada banyak orang yang kecewa dengan pernyataan Yesus ini, seolah-olah merendahkan Musa yang mereka junjung tinggi itu.  Ada banyak orang lalu meninggalkan Yesus setelah peristiwa Kapernaum itu. Akankah kita ikut dalam rombongan yang pergi meninggalkan Yesus itu, ataukah kita tetap tinggal di sana bersama murid-murid-Nya? (Sandy Kurnia)

===============================================================================================

Bacaan Injil, Yoh 6:30-35
Maka kata mereka kepada-Nya: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga.”
Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.”
Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Leave a Reply

Required fields are marked *.