Fiat Voluntas Tua

Pembawa Pelita Pengusir Gulita

| 0 comments

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur”

Injil hari ini membuat saya merenung seharian disela-sela kesibukan – beranikah aku tetap  bersinar membawa terang Kristus diantara gelapnya harapan disekitar ku? Injil hari ini mengajak kita untuk berani menjadi pembawa kebenaran dan kebaikan ditengah kegelapan dan suramnya harapan. Yesus mengatakan tidak ada orang yang memasang pelita dan menutupinya dengan tempayan, menaruhnya dikolong tempat tidur. Pelita memang digunakan untuk memberikan terang ditengah kegelapan malam. Tetapi ada dua kejadian dalam tradisi masyarakat Yahudi tentang pelita ini dalam perjanjian lama.

Kisah pelita yang ditutupi tempayan hanya ada dalam perang melawan bangsa Midian yang dipimpin Gideon (Hak 7:16-20). Hanya dengan 300 orang bangsa Israel mampu mengalahkan bangsa Midian. Pelita disimpan didalam tempayan agar pasukan tersebut tidak terlihat berjalan didalam gelap malam. Sehingga saat aba-aba terdengar untuk menyerbu, barulah tempayan2 tersebut dipecahkan sehingga mengejutkan pasukan Midian yang tidak siap menerima penyerbuan tersebut.Mereka memenangkan peperangan ini karena mengandalkan Tuhan bukan pada kemampuan dan senjata yang mereka miliki.

Kisah kedua adalah kebiasaan bangsa Yahudi yang menyalakan pelita menjelang hari Sabat. Sabat adalah hari yang dikuduskan, dimana mereka dilarang melakukan pekerjaan termasuk memasak, menyalakan dan mematikan api dan pelita. Maka untuk menghindari kegelapan malam, dan tetap mentaati aturan sabat, orang Yahudi tetap menyalakan pelitanya sepanjang hari sabat. Tidak mematikannya saat tidur, tetapi supaya tidak silau, mereka menaruhnya di bawah tempat tidur. Baru dimatikan setelah hari sabat sudah lewat.

Berangkat dari kedua kebiasaan ini apa yang bisa kita simpulkan? Menjadi pengikut Kristus memang harus berani menjadi teladan dalam berbagai hal sehingga seperti memberikan terang ditengah kegelapan dunia, memberikan harapan ditengah kecemasan. Tetapi ini hanya bisa kalau kita menghancurkan manusia lama kita, seperti Gideon dan pasukannya memecahkan tempayan. Kebiasaan dan manusia lama kita bisa menghalangi terang yang ada dalam diri kita. Hal kedua, terang yang kita bawa bisa tidak bermanfaat bagi banyak orang bila hanya disimpan untuk diri sendiri, disimpan di kolong tempat tidur. Tapi harus dibagikan dan diberikan kepada orang-orang yang membutuhkannya.

Semoga apapun yang diberikan Tuhan pada kita, berbagai kemampuan dan talenta, dan dengan meninggalkan manusia lama kita, kita mau berkorban untuk banyak orang. Bonum Commune, demi terciptanya kesejahteraan bersama. Menjadi pelita bagi orang lain sama artinya seperti lilin yang membakar dirinya demi kegelapan; mengorbankan kebutuhan dan kepentingan pribadi bagi kebutuhan orang banyak yang lebih utama. Lalu bagaimana dengan kebutuhan kita pribadi? Don’t worry , be happy kita punya Allah yang maha pemurah. Dia lebih murah hati dari yang kita pikirkan.

===============================================================================================

Bacaan Injil Luk 8:16-18

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia  menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.”

Leave a Reply

Required fields are marked *.