Fiat Voluntas Tua

Meditasi Kristiani (Br Yoanes FC)

| 0 comments

Pikiran adalah sesuatu yang berpikir – ia bertanya, membuat rencana, mengkhawatirkan, berkhayal. Hati adalah sesuatu yang memahami – ia mencinta. Pikiran adalah organ pengetahuan, hati adalah organ cinta kasih. Cinta kasih adalah pengetahuan sempurna.   Namun, Allah itu sederhana, cinta itu sederhana. Meditasi juga sederhana. Menjadi sederhana berarti menjadi diri kita apa adanya. Itu berarti kita tidak perlu memberikan penilaian atau penolakan diri kita sendiri.

Meditasi adalah upaya untuk menemukan dan menjadi hening. ” Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah”. (Mzm 46:11)

Kita memerlukan keheningan untuk kesehatan jiwa dan pertumbuhan rohani kita. Keberadaan televisi, video, stereo dan kebisingan lalulintas di kota modern membuat keheningan menjadi semakin sulit dialami. Kita belajar menjadi hening dengan memusatkan perhatian. Keheningan mengandung kebenaran. Ia menyembuhkan. Ia menenangkan gejolak batin. Ia merupakan obat untuk kemarahan, kecemasan, dan kepedihan.

Pastor Laurence Freeman, OSB.- adalah seorang biarawan Benediktian dan penerus dari Pastor Jhon Main, yang mempekenalkan meditasi kristiani keseluruh belahan dunia dan bekerjasama dengan agama-agama lain yang memiliki tradisi serupa.

“Kerajaan Allah bukan suatu tempat, melainkan suatu pengalaman” (Jhon Main)

Saya tidak ingin mengatakan bahwa meditasi adalah satu-satunya jalan, melainkan bahwa meditasi adalah jalan satu-satunya yang saya temukan. Menurut pengalaman saya, meditasi adalah jalan yang sederhana yang membuat kita sadar sepenuhnya akan kehadiran Tuhan di dalam hati kita; dan inilah pengalaman yang terekam dalam tradisi Kristiani sejak zaman rasul-rasul sampai masa kini” Jhon Main.

Berikut Cara meditasi yang diajarkan oleh Jhon Main.

- Duduk diam dengan punggung tegak.

- Tutuplah mata.

- Ulangi mantra dalam hati secara terus menerus.

Pilihlah waktu dan tempat yang tenang dan bermeditasilah kira-kira 20 – 30 menit setiap pagi dan malam. Mantra yang ideal adalah ungkapan dalam bahasa Aram kuno, “Maranatha” yang berarti “Tuhan datanglah”. Ucapkanlah dengan jelas dan tanpa berhenti selama meditasi, sebagai empat suku kata yang sama panjang :

MA-RA-NA-THA.

Ucapkanlah dengan tanpa tergesa-gesa, bersikaplah sederhana dan lakukan dengan setia. Iman kitalah yang membuat meditasi kita menjadi kristiani.

Sebagai seorang diplomat yang ditempatkan di Asia Tenggara (Malaysia), Jhon Main mengenal meditasi melalui seorang pandita Hindu bernama Swami Satyananda. Jhon Main segera menyadari bahwa meditasi juga memperdalam dan memperkaya doa kristianinya, dan meditasi tidak mempengaruhi sedikitpun iman kristianinya. Pastor Jhon Main memahami bahwa disiplin meditasi pagi dan malam memberikan kita keseimbangan batin sepanjang hari.


Catatan yang perlu diketahui:
Dalam Alkitab bahasa Inggris (Mazmur), istilah ‘meditate” dalam bahasa Indonesianya disebut merenungkan Taurat (Yos. 1:8; Mzm. 1:2), merenungkan Tuhan (Mzm. 63:7), merenungkan perbuatan Tuhan (Mzm. 77:13), merenungkan titah Tuhan (Mzm. 119:15,78), merenungkan ketetapan Tuhan (Mzm. 119: 23,48), merenungkan Janji Tuhan (Mzm. 119:148), dan merenungkan pekerjaan Tuhan (Mzm. 143:5). Dari ayat-ayat tersebut kita dapat melihat bahwa ‘meditasi’ dalam Alkitab Inggris selalu dikaitkan dengan ‘adanya tujuan tertentu’ dalam teologi kr****n, apakah itu merenungkan Taurat atau Tuhan sendiri. Bisa juga untuk merenungkan perbuatan, titah, ketetapan, janji atau pekerjaan Tuhan, jadi tujuannya jelas, dan meditasi ini dilakukan dalam doa atau saat teduh. Meditasi Alkitab ditujukan kepada Tuhan yang berpribadi, firmannya atau perintahnya dalam hubungan yang jelas antara ‘ciptaan dan penciptanya.’

Berbeda dengan itu, ‘meditasi mistik’ dilakukan dengan obyek diri sendiri dan biasanya dengan cara bernafas dan sikap/posisi tertentu, tujuannya lebih untuk mengarah pada self, pengolahan tenaga batin, penyatuan diri dengan sumber yang ‘ada’ (Hinduisme, Taoisme) atau penyatuan diri dengan sumber yang menjadi ‘tidak ada’ (Zen-Buddhisme), jadi sifatnya berorientasi pada diri sendiri atau alam, dari ciptaan kepada ciptaan. Apalagi meditasi kebatinan biasa diiringi dengan latihan pernafasan dalam posisi lotus (piramid) dan otot dikendorkan, atau dengan posisi-posisi berubah-ubah seperti dalam Yoga. Yang jelas meditasi adalah olah-pikiran yang juga sering diiringi pengucapan mantera. Bila meditasi itu dikaitkan dengan agama, sifatnya berfaham universalisme di mana semua tokoh agama itu hanya dianggap sebagai perantara (avatar) saja yang setara, mereka hanya membantu diri sendiri yang bersifat ilahi melebur ke dalam diri/nafas semesta ‘Yang SATU itu.’

Mistik Kristiani beda dengan mistik dalam pendangan di atas. Mistik Kristiani adalah persatuan dengan Yesus. Yesus di dalam saya dan saya di dalam Yesus seperti terdapat dalam Firman Yesus sendiri.
Injil Yohanes
15:4 Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.
15:5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
15:6 Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.
15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.
Dan persatuan itu terjadi dalam seluruh hidup orang beriman kristiani, di mana ia merasa, berpikir, berkehendak serperti Yesus Kristus / yang ada dalam Firman Kitab Suci.
Dari perbandingan di atas, kita dapat melihat adanya perbedaan yang jelas antara kedua bentuk meditasi itu, dan karena istilah ‘meditasi’ sudah umum dikenal sebagai meditasi kebatinan, maka bagi umat kristiani, untuk membedakannya, lebih baik kita menggunakan terjemahan bahasa Indonesia yaitu ‘doa hening / melakukan saat teduh/merenungkan’ daripada menggunakan terjemahan bahasa Inggris ‘meditate/meditation’ yang mengarah pada pengertian kebatinan dan berkonotasi New Age.
Meditasi Kristiani berpokok / berpusat pada Yesus Kristus seperti dalam perumpaan pokok anggur ( Yohanes 15: 1 dst). Seluruh latihan doa hening untuk kita bersatu dengan Yesus.
Bahwa ada efek samping dari latihan itu, hal itu bukan tujuan. Karena kalau itu dijadikan tujuan, maka kita bukan lagi bermeditasi kristiani, tapi seperti dalam alinea di atas yang mengkritisi “meditasi mistik”.

Leave a Reply

Required fields are marked *.