Fiat Voluntas Tua

Kami Juga Seorang Muslim

| 0 comments

Berikut ini saya postingkan tulisan seorang rekan yang menyuarakan pemikiran di halaman facebooknya. Saya tidak bermaksud mempertentangkan antar ideologi, tetapi hanya mengajak kita semua membuka hati dan memiliki wawasan luas untuk menerima mereka. Terutama mereka yang berbeda orientasi seksualnya sebagai sesama mahluk ciptaan Tuhan dan terlebih lagi sebagai sesama warga negara Indonesia yang memiliki hak dan kedudukan yang sama dimata hukum. Mereka termasuk golongan minoritas yang akhirnya menjadi korban mayoritas – korban tindakan kita juga. Padahal siapakah diantara kita yang berhak mengadili sesama manusia? – RA

Tulisan ini sebuah refleksi diri saya sebagai aktivis gay yang sampai sekarang masih seorang muslim. Ini bermula ketika membaca berita soal kecaman keras dari para ulama Aceh ketika para Waria melakukan kegiatan malam sosial yang diselenggarakan di Auditorium RRI cabang Banda Aceh, Sabtu malam pada 13 Februari 2010. Para ulama dengan berbagai argumentasi mengecam kegiatan sosial yang dilakukan oleh teman-teman waria tersebut. Menurut Sekjen Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Tgk Faisal Ali di Banda Aceh bahwa kegiatan itu telah menodai pelaksanaan syariat Islam di Aceh,” kata Faisal.(www.antara.co.id)
Komentar-komentar miringpun terus berkembang setelah kegiatan tersebut, baik dimasyarakat langsung maupun melalui internet. Hujatan sebagai kelompok pendosa dan mencemarkan nama baik Aceh dilontarkan kepada para Waria. Ini komentar dari seseorang yang ada di salah satu berita di Internet; Asrul, Minggu, 14-Februari-2010 (www.metrotvnews.com)

TIDAKKAH KALIAN INGAT PADA KAUM SODOM YANG NABI LUTH AS PERNAH DIUTUS? KENAPA MUNCUL LAGI KAUM SEPERTI INI DI JAMAN YANG KATANYA MODERN INI? APAKAH SEJARAH AKAN BERULANG KEMBALI? HAI KAUM WARIA (TERMASUK DORCE DKK), APAKAH KALIAN PUNYA RAHIM? KALAU TAK PUNYA, YA BERARTI KALIAN KAUM ADAM. APAKAH KALIAN LEBIH TAHU DAN PINTAR DARIPADA SANG PENCIPTA? KALAU MEMANG DEMIKIAN, MENGAPA KALIAN TIDAK SEKALIAN MEMINTA MENJADI BINATANG, KARENA TOH BINATANG LEBIH BERUNTUNG, TIDAK AKAN DIHISAB DI AKHERAT KELAK.

Kecaman itu bukan hanya berasal dari ulama, masyarakat tetapi sebagian aktivis penegak hak asasi manusia di Aceh. Tuduhan tidak bermoral, meyimpang dari ajaran Islam dan dilekatkan sebagai kelompok pendosa serta pembawa bencana seperti sejarah Luth. Sangat jarang atau bahkan tidak ada kelompok ulama yang memberikan pandangan yang lebih humanis selain hujatan dan hinaan pada kelompok homoseksual dan waria selain sebagai kelompok pendosa. Sepertinya urusan dosa sudah menjadi otoritas para ulama. Minimal itu yang saya dapat dari membaca komentar ulama di beberapa media. Walau sebenarnya tidak semua ulama berpikir hal yang sama. Karena ulama sendiri juga mempunyai perbedaan pandangan untuk berbagai hal termasuk soal bagaimana memperlakukan Waria ataupun homoseksual lebih manusiawi.

Para Waria yang dihujat itu pada umumnya bersuku Aceh serta beragama Islam. Tinggal dan lahir di Aceh. Sehingga penampilannya juga ada yang mengenakan jilbab. Sebagai sebuah bentuk keyakinan untuk menutup aurat atas tubuhnya sebagai seorang Waria. Mereka (Waria) juga menjalankan ibadah wajib yang diperintahkan oleh Allah SWT. Seperti sholat, puasa dan juga berbuat baik pada orang lain. Tidak ada perbedaan ritual ibadah yang dilakukan oleh Ulama dengan teman-teman Waria itu. Keyakinan agama Islam mereka bukanlah keyakinan yang dianggap “sesat” oleh banyak ulama, seperti Ahmadiyah, Lia Eden, Ustad Roy ataupun aliran Islam lainnya. Waria yang di Aceh adalah seorang muslim yang meyakini umumnya muslim yakini. Tetapi mengapa kebencian ulama Aceh begitu besar pada Waria? Ada apa dengan Waria?

Kasus-kasus seperti ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Aceh saja, tetapi beberapa daerah di Indonesia juga melakukan hal yang sama. Bahkan menggunakan kebijakan formal sebagai bentuk kebencian terhadap kelompok Waria maupun homoseksual. Hampir semua Perda-Perda tentang pelacuran, maksiat, perbuatan asusila memasukan kelompok homoseksual sama dengan pelacuran. Seperti yang terdapat pada Perda Kota Palembang Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Pemberantasan Pelacuran, pasal 8 ayat 1 dan 2 meyebutkan bahwa:
Pelacuran adalah perbuatan yang dilakukan setiap orang dan atau sekelompok orang dengan sadar bertujuan mencari kepuasan syahwat di luar ikatan pernikahan yang sah dengan atau tanpa menerima imbalan, baik berupa uang maupun bentuk lainnya . Yang termasuk dalam perbuatan pelacuran adalah a. homoseks; b. lesbian;

Artinya jika ada seorang homoseksual maka dia adalah seorang pelacur. Padahal tidak semua homoseksual adalah seorang pelacur. Homoseksual meyangkut orientasi seksual seseorang, tidak ada kaitan dengan pelacur. Apakah kalau ada laki-laki atau perempuan heteroseksual menjadi seorang pelacur kemudian semua kelompok heteroseksual seorang pelacur? Tentu tidak begitu.
Kebijakan seperti ini sebenarnya sebagai bagian dari stigma dan kebencian negara kepada kelompok homoseksual . Negara telah menggunakan justifikasi agama tunggal dalam membuat kebijakan. Padahal Indonesia bukan Negara agama. Kalau bicara Agama juga akan berhadapan pada keberagaman cara mentafsirkan teks-teks. Sehingga akhirnya pemahaman teks tidak pernah tunggal. Dalam hal ini Negara tidak dapat menggunakan tafsir teks agama tertentu dalam membuat kebijakan Negara. Ini bertentangan dengan semangat dari UUD 45 dan Pancasila.

Dalam hal ini negara yang seharusnya melindungi setiap warganya termasuk kelompok homoseksual dan waria justru semakin mendiskriminasikan. Akibatnya selain stigma yang didapat kelompok homoseksual dan waria seperti yang terjadi di Aceh, serta kehilangan hak-hak dasar nya sebagai warga Negara.
Contoh diatas mengingatkan saya sebagai seorang yang dibesarkan dilingkungan muslim dan keluarga Muhammdiyah tentang pelajaran agama yang saya dapat selama ini. Sejak kecil pada saat belajar agama di sekolah maupun keluarga, bahwa Allah SWT menjanjikan surga bagi setiap Muslim. Artinya kalau sudah menjadi Muslim walaupun kita seorang yang jahat tetap akan masuk surga.
Rasulullah SAW bersabda, “Jibril berkata kepadaku, ‘Barangsiapa meninggal dalam keadaan tidak  mempersekutukan sesuatu kepada Allah maka dia pasti masuk surga atau tidak masuk neraka’”. Abu Dzar ra., berkata, “Dan meskipun dia berzina dan meskipun dia mencuri ?”, Beliau SAW bersabda, “Dan meskipun” (HR. Bukhari).
Janji surga sudah jelas diberikan kepada setiap muslim tidak terkecuali termasuk seorang homoseksual maupun Waria yang muslim.
Kemudian siapa orang-orang yang tidak akan masuk surga? Ada beberapa kelompok manusia yang akan masuk neraka secara kekal (abadi) yaitu orang yang meyekutukan Allah SWT seperti kafir.
“Adapun orang – orang yang kafir dan mendustakan ayat – ayat kami, mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” (QS Al Baqarah: 39)
Orang kafir dari pemahaman yang saya terima sebagai seorang muslim adalah orang-orang yang tidak percaya akan Allah SWT dan Muhammad SAW. Mereka adalah orang-orang yang non muslim ataupun orang-orang yang keluar dari Islam. Pada saat saya merasakan diri bahwa saya adalah seorang homoseksual dan dalam teks-teks Alquran termasuk hal yang “dilarang” dalam ajaran Islam. Saya sendiri tidak pernah tahu mengapa saya “menjadi” seorang gay.
Karena beratnya menjadi seorang gay yang dilekatkan sebagai pendosa, tetapi saya masih seorang muslim. Sehingga saya tetap akan masuk surga. Itulah pikiran saya waktu itu.
Walau doktrin surga yang dijanjikan selama ini tidak begitu menarik bagi saya sebagai seorang gay. Karena surga yang digambarkan adalah surge dengan bidadari-bidadari yang cantik dan awet muda selamanya. Saya sebagai seorang gay tidak ada ketertarikan sama sekali dengan perempuan. Saya membayangkan bagaimana surga banyak laki-laki ganteng dan macho-macho selamanya, pikirku waktu itu.
Itu yang ada dalam pikiran saya pada saat itu sebagai seorang gay dan sekaligus muslim.
Sepertinya sebuah hal yang sangat sulit sekali kalau saya harus meninggalkan rasa cintaku kepada sesama jenis. Sama sulitnya ketika saya harus meninggalkan Islam sebagai agama yang saya yakini sampai sekarang ini. Dengan situasi ini apakah kemudian saya akan meyalahkan Allah SWT? Tentu saya sebagai seorang muslim tidak boleh meyalahkan Allah SWT!

Begitu juga dengan teman-teman saya Waria di Aceh yang juga seorang muslim. Saya yakin bahwa apa yang saya rasakan juga dirasakan oleh teman-teman Waria muslim di Aceh. Atau mungkin juga dirasakan oleh banyak gay dan Waria muslim di dunia.
Mengapa kami (homoseksual dan Waria) begitu dibenci oleh sebagian ulama dan masyarakat muslim? Seperti pengalaman saya yang mendapatkan penyiksaan di Aceh karena saya seorang gay. Bukankah saya sebagai seorang gay dan Waria muslim di Aceh adalah orang-orang yang akan masuk surga juga? Itukan janji dari teks-teksNYA?

Tetapi mengapa orang -orang non muslim yang katanya “ kafir”, seperti nasrani, jahudi, budha, hindu, konghuchu dan agama lokal yang ada di Indonesia jauh dipandang lebih “mulia” oleh para ulama dan masyarakat muslim? Walau tidak sepenuhnya kelompok yang dianggap “kafir” ini mendapatkan hak-hak nya di Indonesia. Tetapi minimal masih jauh lebih baik dibandingkan dengan kelompok homoseksual dan Waria. Masih ada perlindungan hukum yang jelas bagi kelompok non muslim, baik dalam ruang politik maupun ekonomi. Bahkan sudah banyak kelompok muslim sekarang yang tergabung memperjuangkan hak-hak kelompok non muslim. Selain itu juga sudah banyak kebijakan nasional maupun international yang menghargai perbedaan manusia karena keyakinan agamanya. Tetapi situasi itu tidak untuk kelompok homoseksual dan waria. Jangankan diberikan haknya, malah justru dikriminalkan dalam kebijakan-kebijakan pemerintah. Yang paling meyakitkan lagi homoseksual disamakan dengan pelacur.

Tulisan ini tidak sedang mengatakan bahwa toleransi antar umat agama hal yang harus dirusak. Kerukunan beragama harus terus ditingkatkan sampai pada tingkat yang paling tinggi, keadilan bagi siapapun. Karena itulah tugas Negara dan ajaran Islam yang saya yakini sekarang. Meyayangi semua orang, termasuk yang kafir. Tulisan ini untuk melihat sebenarnya ada apa dengan hak homoseksual dan Waria yan hilang selama ini?

Karena pelaku diskriminasi buka hanya pada kelompok muslim saja. Tetapi pada umumnya agama-agama menolak keberadaan homoseksual dan Waria sebagai bagian umat beragama. Walau ekspresi dan cara meyikapi memang berbeda-beda masing-masing agama. Misalnya sekarang ini sudah ada sebagian aliran Kristen yang merestui perkawinan sejenis. Paus pemimpin Khatolik sendiri walau tidak merestui perkawinan sejenis tetapi bersikap meyerukan untuk menghentikan segala bentuk kekerasan kepada kelompok homoseksual dan Waria.

Seperti yang saya ungkapan diawal bahwa tulisan ini merupakan renungan dan refleksi dari kejadian yang baru saja terjadi Aceh dan maraknya kebijakan yang phobia terhadap homoseksual dan Waria.Padahal tidak sedikit seorang homoseksual dan Waria melaksanakan ibadah yang mungkin saja tidak kalah kesolehannya dengan para ulama. Seperti melaksanakan sholat lima waktu sehari, puasa wajib maupun sunnah, bersedekah untuk fakir miskin, menunaikan ibadah haji dari hasil keringat sendiri, berkarya untuk bangsa, menjadi tulang punggung keluarga serta melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Semuanya itu merupakan perintahNYA.

Tetapi kemudian sebagai seorang muslim, apa yang dilakukan itu semua tidak ada artinya hanya karena kami seorang homoseksual dan Waria. Hujatan dan hinaan terus dilekatkan kepada kami sebagai kelompok pendosa dan pembawa bencana bagi kehidupan manusia. Itu semua dilakukan secara terbuka dan sadar oleh para pelaku, seperti menjadi wakil Allah SWT dimuka bumi ini. Tetapi kemudian hujatan itu tidak berani dilontarkan secara terbuka kepada kelompok yang dianggap kafir. Mengapa penghormatan kepada kelompok non muslim tidak dapat diberikan kepada kami sebagai kelompok homoseksual dan Waria? Bukankah kami seorang muslim yang taat beribadah? Bukankah penghormatan kepada setiap orang adalah esensi ajaran Islam? Harus meyayangi semua mahkluk Tuhan tanpa terkecuali. Termasuk kelompok homoseksual dan Waria. Karena hanya Allah SWT yang layak menghukum dan menghakimi umatnya, bukan kita.

Wasalam

Hartoyo Seorang Gay Muslim /Ketua Ourvoice
Mampang, 7 Maret 2010

Leave a Reply

Required fields are marked *.