Fiat Voluntas Tua

Untuk Kalangan Sendiri

| 0 comments

Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.

Akan sulit memahami arti hosti bagi seorang yang bukan katolik saat mengikuti Misa. Maka kejadian yang dilakukan wartawan muslim di sebuah gereja katolik di Malaysia dimana mereka ikut mengambil hosti dan memuntahkannya  bahkan memfotonya tentu menyakitkan hati umat disekitarnya. Kalaupun kita marah pada mereka juga tidak ada gunanya, karena hosti yang diterima dengan tanpa pengertianpun juga menjadi tidak berarti apa-apa bagi sang penerima. Untuk memahami arti hosti tidak bisa dijelaskan satu kali, bahkan seorang katekumen perlu mempersiapkan dirinya selama setahun untuk menerima hosti. Tidak cukup pengertian dengan logika, tapi perlu keterbukaan hati karena ini menyangkut iman kepercayaan. Bahkan tidak heran kalau masih banyak umat katolik yang belum memahami apa arti hosti yang diterimanya dalam Sakramen Ekaristi, terutama mereka yang menjadi katolik sejak dari kecil.

Tidak cukup pula pengajaran yang diterima anak-anak saat persiapan komuni pertama bila pembelajaran tidak disertai dengan penguatan serta peran orang tua untuk menjelaskan arti penyertaan Tuhan dalam Sakramen Ekaristi. Para suster dan bruder tidak kurang usahanya dalam mendampingi anak-anak di sekolah katolik untuk mendidik mereka agar memiliki karakter kuat, bertanggungjawab, disiplin dan berintegritas dengan  landasan iman katolik. Tetapi bila tidak melihat contoh yang baik dari orang tuanya, maka karakter itupun tidak akan tumbuh sesuai harapan.

Pengalaman pribadi saya yang dibaptis dari bayi, memiliki orang tua yang sangat katolik bahkan rajin ke gereja setiap pagi, tidak bosan-bosannya menceritakan tentang penyertaan Tuhan di setiap kesempatan, sekolah katolik dari TK sampai universitaspun ternyata tidak serta merta membuat saya bisa memahami siapa Kristus dan apa arti hosti dalam Sakramen Ekaristi. Semua itu membutuhkan proses pencarian pribadi yang  panjang dan akhirnya berujung serta bermuara pada pertobatan.  Ada turning point, titik balik dalam kehidupan kita masing-masing, bahwa suatu saat nanti kita yang selama ini ‘buta’ dengan hosti yang setiap minggu kita terima, baru menjadi jelas seterang-terangnya saat kita berhadapan muka dengan muka – mengalami peristiwa pribadi dimana Allah sungguh menyatakan dirinya kepada kita. Tidak hanya dengan mendengar kesaksian orang lain, tetapi mengalami sendiri bagaimana Kristus hadir secara pribadi dan kita menerimanya sebagai Juru Selamat kita.

Maka saya bersyukur karena selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun dikelilingi orang-orang yang tidak bosan-bosannya mengingatkan saya untuk pergi ke Misa, pergi ke persekutuan doa …waktu itu rasanya Be Te benerrr….., mereka juga tidak berhenti menyebut nama saya dalam doa harian mereka, dan dengan setia mengunjungi saya saat saya sedang sakit dan lemah rohani. Kalau bukan karena kesetiaan dan kegigihan mereka, termasuk eyang dan bapak ibu yang sudah berbahagia di Surga, saya tidak akan sampai pada titik dimana saya berdiri saat ini.

Oleh karenanya penting sekali kita saling mengingatkan (bukan menghakimi seperti si sulung) satu sama lain, menyatakan kasih kita satu sama lain, merawat yang luka dan tersisihkan, seperti seorang Bapa yang setia menunggu anaknya yang bungsu dan berharap akan kepulangannya. Kalau saja kita melakukannya bagi kalangan keluarga kita sendiri, seperti yang dilakukan orang tua saya didampingi  sahabat-sahabatnya yang senantiasa berdoa bersama mereka, kekuatan dan kegigihan bertahun-tahun itu ternyata tidak sia-sia  karena membuahkan pertobatan anak mereka satu persatu.

Kalau proses pertobatan kitapun telah melampaui proses yang amat panjang, akibat pengharapan orang-orang yang mengasihi kita, maka  kita juga berani berpengharapan kepada setiap orang yang kita kasihi, yang mungkin masih menjauh dari Tuhan. Bila esok Tuhan masih memberikan kita melihat matahari, berarti masih ada harapan bagi seseorang yang kita kasihi untuk bertobat. Alangkah indahnya pertobatan yang dinanti-nantikan sekian lama itu, gak heran kalau ada pesta besar di Sorga karena ada satu manusia bertobat. Ayo siap-siap jadi EO event organizer pesta  di Sorga, dimulai dari mempersiapkan pertobatan diri sendiri dan kalangan kita sendiri.

==============================================================================================

Bacaan Injil Luk 15:1-32

15:1    Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.
15:2    Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”
15:3    Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
15:4    ”Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?
15:5    Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira,
15:6    dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.
15:7    Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”
15:8    ”Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?
15:9    Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan.
15:10    Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.”
15:11    Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.
15:12    Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.
15:13    Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.
15:14    Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat.
15:15    Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.
15:16    Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya.
15:17    Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
15:18    Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,
15:19    aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.
15:20    Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
15:21    Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.
15:22    Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.
15:23    Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.
15:24    Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.
15:25    Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian.
15:26    Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.
15:27    Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.
15:28    Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.
15:29    Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.
15:30    Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.
15:31    Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.
15:32    Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.

Leave a Reply

Required fields are marked *.