Fiat Voluntas Tua

Aku Gak Apa-apa Kok?!

| 0 comments

Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.

Waktu ada test kolesterol di PSE sempat iseng ikut daftar, kaget juga ternyata kolesterol saya 204, sedikit diatas batas normal. Sejak saat itu saya jaga pola makan saya, kurangi daging merah dan berlemak. Lalu iseng cek lagi waktu di Jogya kemarin, ternyata gula darah, kolesterol, asam urat dan tri gliserid normal semua. Dengan kemajuan teknologi test darah cukup beberapa menit saja selesai dan banyak bertebaran di berbagai toko obat di mall.

Maka saya paksakan suami dan anak-anak juga test darah. Apa salahnya sih? Suami ngotot katanya dia ok-ok aja, pola makannya jauh lebih sehat dari saya. Memang dia sangat suka sayuran, tapi kopinya aduuh… kuat banget dan berat badannya naik terus. “Aku gak apa-apa kok, percaya deh” katanya. Saya percaya kalau sudah ditest lah. Hasil test menunjukkan kolesterolnya 230, asam uratnya 7,7 dan trigliseridnya 500. Waduuuh… semuanya bukan diatas normal lagi, kagak normal banget.  Dia kaget dan tidak percaya. Akhirnya ia sendiri berjanji merubah dan menjaga pola makannya dibantu dengan supplement dan olah raga. Kalau gak merasa sakit, mana mau pasien minum obat dan mengubah pola makan. Saya cuma bisa cerewet mengatur segala macem, tapi akhirnya keputusan ditangan dia. Toh saya tidak bisa mengawasi nya setiap saat. Saya hanya bilang, anak-anak dan istrinya masih membutuhkan dia.

Memang paling susah meyakinkan diri sendiri, pasti pada akhirnya menjadi sangat subyektif. Untuk masalah kesehatan, kita merasa kita baik-baik saja. Gak apa-apa kok, gak pusing, gak meriang, gak mual. I am just doing fine. Tapi ternyata dengan alat test yang kesalahannya kurang dari 5%, hasilnya menunjukkan bahwa kita tuh sudah diluar batas normal… walaupun belum sampai ambrug. Apa kita mau nunggu sampai sakit parah terkapar baru bertindak? Ternyata memang sebagian besar penyakit seperti kolesterol, darah tinggi, asam urat dsb disebabkan oleh kita sendiri yang masa bodoh dengan tubuh kita sendiri.  Pola makan, istirahat, kerja keras yang tidak seimbang akhirnya mengganggu kesehatan kita.

Injil hari ini mengingatkan kita bahwa kita pun perlu sering melakukan pemeriksaan batin, sakitkah aku, lelahkah batinku, atau justru kita yang sering menyakiti orang lain? Dengan tidak sadar orang yang terluka batinnya dengan mudah melukai orang lain disekitarnya. Tidak mudah memang melakukan pemeriksaan batin, sungguh dibutuhkan kerendahan hati untuk membuka diri. Apakah pasangan kita bahagia bersama kita, apakah mereka sungguh merasa kita cintai? Bersiaplah dengan ‘curhat’ mereka kalau ternyata kita ‘kurang’ menunjukkan cinta kita. Dan dengan demikian kita baru bisa berteriak mengatakan, aku memang sakit dan perlu disembuhkan. Aku perlu tabib, Tabib yang ajaib, Dialah Sang Penyembuh yang selalu siap mencintai kita seutuhnya.

Lagi-lagi tentang orang Farisi, yang dengan mudah menghakimi siapa yang pantas bergaul dengan mereka. Pemungut cukai, yang pekerjaannya menarik pajak orang sebangsanya dan menyerahkannya ke bangsa Romawi, penjajah saat itu; dipandang sebagai orang yang berdosa memeras bangsanya sendiri. Tapi Yesus dengan kasihNya justru datang kepada mereka. Ia membenci pekerjaan pemungut cukai, tapi Ia mengasihi mereka. Akhirnya para pemungut cukai itu mengikuti Dia, dan sudah pasti meninggalkan pekerjaannya. Itulah kesembuhan yang dibawa Yesus.

Pertobatan yang sungguh-sungguh membuat kita orang berdosa mengenali kesalahan kita dan berbalik kepada Dia. Orang Farisi tidak melihat apa yang dilihat Yesus karena sudah terbiasa dengan penghakiman dan merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Kalau kita selalu merasa diri kita di atas orang lain, memenuhi standard maka kita akan sulit melihat orang lain seperti Yesus melihat mereka. Pelan tapi pasti kita sudah dimasuki ragi orang Farisi yang pada akhirnya mengutamakan apa yang kelihatan, seperti persembahan dan kolekte serta tata acara ibadah. Kesombongan rohani pun bisa menyulitkan kita dan menghalangi kita untuk dapat memiliki serta menunjukkan kerendahan hati untuk menyapa dan menerima orang lain apa adanya.

Kalau kita gak nyadar bahwa kita sakit, bagaimana bisa kita minta dan mau sembuh? Mari dengan rendah hati kita membuka diri menerima cinta Tuhan seperti renungan mas Jeffry Dompas pagi ini : When you feel exhausted, maybe you are reaching to the top as you walk the mountain trail. But if you feel relaxed, it maybe that you are on your way down…These paradox quote made me think of my own spiritual life and today’s passage is a reaffirmation of my firm belief that no matter what, we should not be ashamed to approach our Lord for mercy and the forgiveness of our sins and start anew. For He is there for us and precisely for this purpose He made Himself available.

=====================================================================

Bacaan Mat 9:9-13

9:9 Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.
9:10 Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.
9:11 Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”
9:12 Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.
9:13 Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

Leave a Reply

Required fields are marked *.