Fiat Voluntas Tua

Digandeng Roh Atau Digendong Setan?

| 0 comments

Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis.

Ada yang berbeda di halaman gereja Blok Q hari ini, beberapa tenda kuning terpajang seperti akan ada bazaar. Selama masa pra-Paskah dengan tema APP KAJ “Mari bekerja sama melawan kemiskinan”,  tenda-tenda tersebut disediakan bagi para pedagang kecil memasarkan produk mereka di halam gereja. Demikian juga para seniman tradisional juga diberi kesempatan pameran dan tampil. Inilah wujud nyata agar mereka yang berjuang melawan kemiskinan diberi kesempatan untuk mewujudkannya. Kita membantu dengan membeli produk mereka di pasar tradisionil, tidak membeli produk bermerek dan import agar mereka yang kecil ini juga bisa hidup lebih layak. Aksi nyata ini merupakan aksi pertobatan kita dimasa puasa ini. Syukur bila berlanjut dan bisa menjadi bagian kehidupan kita untuk senantiasa peduli bagi yang berkekurangan. Tindakan karitatif harus meningkat menjadi tindakan pemberdayaan bagi umat dan warga sehingga mereka bisa hidup lebih layak.

Melalui homili hari ini romo maryono sj, mengingatkan adanya 3 (tiga) jebakan iblis yang menjerat kita menjauh dari Allah dan tidak lagi memiliki kemampuan untuk peduli pada yang miskin. Godaan pertama adalah sekitar ‘kampung tengah’ – tentang makanan sebagai kebutuhan pokok manusia. Yesus akhirnya lapar setelah puasa 40 hari, kitapun juga butuh makanan – perlu pekerjaan dan usaha agar  seisi rumah bisa makan.  Setiap orang bekerja dan berusaha agar bisa mendapatkan makanan, tidak kelaparan. Tetapi di jaman ini kebutuhan hidup tidak hanya sekitar perut lagi. Setelah kenyang perut, mulai merambah dengan berbagai surat berharga yang tidak ada di jaman Yesus. Uang yang segunung tinggal ditulis diselembar kertas dan diperjual belikan.  Tanah harta kekayaan pun tinggal ditulis dalam selembar kertas. Walhasil tidak ada lagi kata ‘cukup’ dan ‘kenyang’ karena yang timbul kemudian adalah keserakahan. Tidak ada batasnya ‘kenyang’ atau ‘cukup’.

Godaan kedua dari iblis adalah tawarannya kepada Yesus untuk mendapatkan kekuasaan – ada kecenderungan manusia untuk selalu mendapatkan kekuasaan setelah perutnya kenyang. Sedikit ada uang lebih, kita bisa mencoba menguasai orang lain. Demikian pula bila ekonomi membaik, kita berpikir punya pembantu RT satu atau dua orang. Dan kemudian kita merasa bisa menguasai manusia lain karenanya. Hal tersebut juga terjadi di skala yang lebih besar seperti perusahaan, organisasi , gereja dan juga politik. Manakala sudah sampai pada tingkat kekuasaan dan otoritas, selalu ada godaan untuk bisa menguasai dan mengatur semua yang ada dibawahnya. Penguasa mengatur rakyat, pengusahapun bisa mengatur pejabat yang dikehendaki. Dalam skala lokal, kitapun merasa berhak mengatur jam kerja para pembantu dirumah.

Godaan terakhir adalah yang paling berat. Setelah perut kenyang dan punya kekuasaan – kita bisa terlena dan merasa tidak perlu ada Tuhan lagi. Tidak perlu bicara tentang Tuhan karena sudah mendapatkan apa yang diinginkan : kekayaan dan kekuasaan. Keduanya ini begitu dipenuhi bisa langsung membawa manusia menuhankan dirinya. Tidak perlu urusan rohani lagi, saya bisa menyelesaikan semuanya. Tidak perlu lagi bakti sosial, saya kasih uang beres habis perkara. Sumbang saja sekaligus, beres dan tidak perlu repot. Namanya pun tercatat sebagai donatur tunggal. Kalau sudah begini sudah tidak perlu lagi komunitas, tidak perlu orang lain apalagi kerjasama. Tinggal sebut sepatah kata, bersabdalah saja… maka jadilah itu.  Kenapa? ya karena ada kekayaan dan kekuasaan. Tinggal perintah  langsung jadi.

Pengalaman saya bertemu banyak pengusaha, pejabat bahkan para petinggi dan penguasa memang demikian.  Susah sekali mengajak mereka berembug mencapai kesepakatan karena masing-masing ingin menunjukkan pengaruhnya. Bahkan bisa saling mengancam… hadoooh….Sekali keluar sepatah kata, bisa membuat panik orang-orang disekitarnya yang berusaha untuk memenuhinya. Nah dalam posisi demikian, akan mudah sekali tergelincir pada dosa yang paling berat yang membuat Adam dan Hawa jatuh – kesombongan diri. Tahapan ini sudah cukup membuat keadaan parah karena manusia jenis ini sudah tidak bisa lagi membicarakan tentang Allah, apalagi tentang sesama yang ada disekitarnya. Buat apa repot-repot mengurusi orang miskin, toh saya dulu juga berjuang sendiri untuk bisa survive. Atau gak usah pusing-pusing, apapun urusannya KUHP Kasih Uang Habis Perkara !

Pada tahap ini kita bisa merasa bahwa kita berhak menentukan nasib orang lain, toh sudah ada kekayaan dan ada kekuasaan. Buat apa lagi susah dengan urusan dengan Tuhan? Apalagi bicara tentang orang miskin – mereka masih harus berjuang untuk jadi kaya (seperti saya). Doa hanya dibutuhkan bagi mereka yang susah hidupnya. Maka tidak heran merekapun sulit memiliki hidup doa yang teratur apalagi menjaga sakramen2nya. Tinggal masalah waktu saja menentukan kejatuhan mereka, seperti terjadi pada banyak pemimpin disekitar kita.

Homili hari ini membawa saya kembali pada ayat pembuka perikop ini. Kita sendiri yang telah menerima rahmat pembaptisan, telah menerima Roh Allah, akan dibawa ke gurun kehidupan kita – diasah dan dipersiapkan agar sungguh-sungguh imannya teruji. Ujian demi ujian bisa dilalui, kenikmatan dunia bisa dihindari hanya jika kita lebih memilih diri kita dikuasai Roh Tuhan senantiasa. Menjaga hidup doa dan memelihara sakramen akan membuat kita menyadari kehadiran Allah dalam keseharian kita. Dia jugalah yang memampukan kita melawan segala godaan dan bertahan sampai garis akhir. Setia dari hari ke hari, karena sekali saja kita lengah maka si iblis yang senantiasa berjaga-jaga 24 jam telah siap menghujani kita dengan godaan dunia yang serba nikmat. Iblis menunggu saat yang ‘baik’ menurut mereka, yaitu saat kita lengah dan mulai mencicipi kenikmatan dunia. Bila sekali kita masuk perangkap kenikmatan dunia sesaat, maka kita akan kehilangan rahmat Allah karenanya.

===============================================================================================

Bacaan Injil Luk 4:1-13

Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar. Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” Jawab Yesus kepadanya: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.”

Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. Kata Iblis kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”

Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus menjawabnya, kata-Nya: “Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.

Leave a Reply

Required fields are marked *.