Fiat Voluntas Tua

Ignatius Slamet Riyanto Pr: Gembala Umat, Gembala Kambing

| 1 Comment

Ignatius Slamet Riyanto Pr: Gembala Umat, Gembala Kambing

[HIDUP/Anton Sumarjana]
Ignatius Slamet (berjaket loreng), Silvester Sudiman, bersama seekor pejantan kambing PE.

HIDUPKATOLIK.com – Sebagai imam baru, ia sangat terpesona dengan ‘emas’ yang tersimpan di Bukit Menoreh. Ia membuka mata umat untuk menambangnya, sebagai berkah Tuhan yang mampu menyejahterakan kehidupan mereka.

Pertengahan 2007, Pastor Ignatius Slamet Riyanto Pr baru saja ditugaskan di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bernoda Nanggulan, setelah penahbisannya sebagai imam Praja Keuskupan Agung Semarang, pada 27 Juni di Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta. Salah satu paroki di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini, sebagian wilayah pelayanannya menjangkau Bukit Menoreh.

Setiap Sabtu, imam kelahiran Klaten, 9 November 1976 ini berkunjung ke Stasi Pelem Dukuh, yang berada di Bukit Menoreh, sekitar 15 km arah barat pusat paroki. Jalan menuju perbukitan ini mulus, meskipun berkelok dan menanjak membelah areal persawahan dan pekarangan yang menghijau oleh aneka pepohonan. Ia amat terpesona dengan pemandangan alam sekitarnya.

Dinikmatinya jalan yang berkelok dengan sepeda motornya. Dicermatinya beragam pohon yang hijau segar di kiri kanan sepanjang jalan. “Aku menyebut pelayananku di daerah ini dengan pastoral wisata,” tuturnya menggambarkan betapa ia merasa gembira dalam setiap detik perjalanan pastoralnya.

Bukan hanya keindahan alam sekitar yang menggetarkannya, ada hal lain yang kemudian menjadi model pastoralnya. Sebagai imam KAS, ia harus mendasarkan penggembalaannya pada data. Data apa yang ia kumpulkan dalam setiap kunjungan stasi ini? Ternyata, rupa-rupa. Selama setahun pertama, ia memetakan beberapa fakta. Di antaranya, banyak orang muda pergi merantau. Tingkat kesertaan umat dalam Perayaan Ekaristi pun rendah. Demikian pula kolekte per minggu. “Banyak umat yang mengeluh soal ekonomi yang kurang,” ungkapnya.

Menjumpai kenyataan ini, ia berniat menjadi guru bagi umatnya. Ternyata, ia justru terkesima dengan kenyataan lain, banyak umatnya memelihara kambing Peranakan Ettawa (PE). “Pertama saya melihat, mengapa penduduk di sini menanami pekarangan dengan pohon hijau-hijauan, tidak jagung. Mereka mengatakan, justru keuntungan dari menanam ini tak kelihatan, karena kami punya kambing PE.”

Kambing PE itu lantas mengusik ketenangannya. Ia begitu terobsesi pada pesona kambing indo itu (PE merupakan turunan dari kambing Ettawa yang asli India dengan kambing lokal). Obsesi itu ia wujudkan dengan mempelajari kambing PE selama setahun. Ia keluar masuk kampung, menyambangi kandang-kandang kambing PE. Telapak tangannya spontan mengusap-usap kepala kambing PE yang memang mempesona itu. Pastor Slamet mempelajari secara rinci ciri-ciri kambing PE yang berkelas. Informasi dia dapatkan dari internet. Sedangkan pada hari Sabtu, tak jarang ia keluyuran ke pusat jual beli kambing PE di Pasar Pendem, Kaligesing, Purworejo. Di tempat itu ia mengamati kambing-kambing PE sambil mencari tahu harga pasarannya.

Langkah berikutnya adalah menghimpun tokoh-tokoh lingkungan, stasi, dan beberapa warga non-Katolik. Terkumpul sekitar 20 orang. Terbentuklah Kelompok Peternak Kambing PE, dengan sekretariat di rumah Totok Slamet Riyadi, yang beralamat di Patihombo, Girimulyo, Kulon Progo. “Kami cari dana, modal, dan gaduan. Dana dari APP keuskupan, panti asuhan, dan investor lainnya. Kemudian, kami belikan lima ekor kambing PE,” kisahnya.

Kelompok peternak ini telah berjalan selama dua tahun. Anggotanya berjumlah 22 orang, yang memiliki kambing PE sejumlah 152 ekor. Rata-rata setiap anggota memiliki 4-13 ekor. Seekor kambing milik ketua kelompok, Totok Slamet Riyadi bernama “Jager IV”, menjadi finalis 10 besar dalam Kontes Kambing PE Purwanti Open 2009.

Sebagai pembina Kelompok Peternak Kambing PE, Pastor Slamet berusaha mengubah pola pikir anggotanya. Lewat obrolan, ia menanamkan cara beternak yang baik. Bahkan, dalam setiap khotbah di gereja stasi, ia menyisipkan berbagai data keuntungan memelihara kambing PE.

Ia membuka mata umat dengan mengatakan, mereka punya tambang emas yang hebat dari kambing PE. Ia memberitahu kualitasnya. Kalau kambingnya kurang baik, ia sarankan dijual untuk membeli kambing yang baik. “Sampai ada yang bilang, kalau Romo Slamet belum gumun, berarti jelek,” ujarnya sambil tertawa.

Silvester Sudiman (45 tahun) adalah salah satu peternak yang termakan hasutannya. Anggota kelompok yang memiliki 26 ekor kambing PE ini senantiasa mengikuti saran Pastor Slamet agar tidak menjual anak kambing yang berkualitas bagus. “Romo Slamet melihat satu-satunya yang bisa mengangkat ekonomi umat Pelem Dukuh ini adalah kambing PE.”

Ia hanya menjual kambing berkualitas rendah untuk keperluan mendesak, seperti biaya sekolah anak. Anak kambing yang berkelas B ia kembangkan untuk investasi ke depan. Dari 26 ekor kambing PE berkelas B, ia pelihara sendiri 16 ekor, sisanya ia gaduhkan. “Terlalu banyak kambing repot di makanan,” tambahnya.

Makanan kambing PE tersedia di pekarangan rumahnya. Yaitu, daun kaliandra, kleresede, nangka, dan singkong karet. Ia juga menambahkan polar dan kedelai. “Hasilnya ganda, pupuk untuk sawah dan ladang supaya subur. Lebih bagus dari kotoran kambing. Hasil dari tanaman itu bisa untuk tambahan makanan. Waktu dulu sebelum ada kambing, tanah di daerah sini gersang. Sekarang, tanah subur dan hijau,” ujarnya bangga.

Berkembangnya peternakan kambing PE di Pelem Dukuh dan sekitarnya, tak hanya berdampak pada kesuburan tanah dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat, juga pada gairah menggereja umat setempat. Di bawah ketinggian patung Yesus yang tengah membentangkan tangan-Nya seolah memberi berkat untuk tanah dan umat Pelem Dukuh, Pastor Slamet mengungkapkan perubahan umatnya. Selama dua tahun ini, ia melihat ada lompatan tinggi dalam kehidupan menggereja umat Stasi Pelem Dukuh.

“Amplop pisungsung mulai dari nol, selama kurang dari setahun terkumpul 25 juta rupiah. Kalau mereka jual kambing, sebagian dipersembahkan untuk Tuhan. Hati mereka tersentuh. Uang bagi umat di sini berharga sekali, tetapi hati umat sudah tersentuh.”

Kolekte juga meningkat, dari Rp 100 ribuan per Misa, menjadi 500 ribuan. Kehadiran umat yang sebelumnya ‘slenthar-slenthir’ (datang satu per satu), menjadi ramai. Setiap Misa dihadiri tak kurang dari 500 orang, dari 800-an warga stasi ini.

Jika sudah seperti ini, sambil berkaca-kaca, imam yang suka melucu dalam setiap khotbahnya ini mengungkapkan kemantapannya sebagai imam. “Saya tidak ragu terjun langsung, ikut pertemuan, pulang sampai malam, di tengah hujan dan kabut.”

Kiprahnya memberdayakan umat, baik dalam hal iman, sosial, dan ekonomi di stasi perbukitan ini, mendatangkan julukan baru kepadanya. Ia mengaku, banyak umat yang tetap menganggapnya sebagai gembala umat, tetapi juga banyak yang memberi tambahan sebagai gembala kambing. Ia merasa oke saja dengan sebutan itu. Paraban ini makin meyakinkan dirinya, bahwa ekonomi umat tidak lepas dari Gereja. “Kita tidak bisa hanya ngomong Tuhan besertamu, berdoalah, dan berdermalah. Tapi juga harus membuka mata umat, kita punya sesuatu, mari kita kembangkan!”

Ignatius Slamet Riyanto Pr

Lahir :
Klaten, 9 November 1976

Tahbisan imam :
Seminari Tinggi St Paulus Kentungan, 27 Juni 2007

Tugas :
Pastor Pembantu Paroki St Perawan Maria Tak Bernoda Nanggulan

Kiprah :
Pendamping PIR Kulon Progo
Pendamping Guru Agama Kulon Progo
Pembina Kelompok Peternak Kambing Ettawa
di Patihombo, Girimulyo, Kulon Progo

Karya :
Buku “Makna Devosi Hati Kudus”
Pustaka Nusatama Yogyakarta, 2007

Pengalaman kerja :
- Sales alat tulis dan kesehatan di Semarang
- Guru SMA St Petrus Pontianak

Anton Sumarjana

One Comment

  1. Terimakasih sudah membagikan artikel yang inspiratif ini, dan memang kiprah dari karya romo Slamet ini pernah saya lihat juga di Gema Iman Katolik di televisi beberapa tahun yang lalu, dan semoga romo Slamet tidak cepat cepat di mutasi tugas, biasanya jika sudah “sukses” akan segera mendapat surat kepindahan tugas.
    Saya melihatnya justru ini baru awal yang nantinya semakin berkembang sehingga paroki paroki lain yang “minus” bisa tahu dan datang untuk belajar di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bernoda Nanggulan.

Leave a Reply

Required fields are marked *.