Fiat Voluntas Tua

Novena Pentakosta: Hari IX

| 0 comments

Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus

Para rasul, para murid bersama Bunda Maria , duduk di ruang atas menjalani Novena pertama dalam Gereja. Dan akhir dari doa-doa dan pujian mereka adalah datang dan turun berkunjungnya Roh Kudus, Roh yang dicurahkan ke atas mereka.

Besok pagi kita merayakan Pesta agung Pentakosta, turunnya Roh Kudus yang menandai lahirnya Gereja. Apa dam siapa Roh Kudus itu? Sukar sekali diungkapkan. Penulis Kisah Para Rasul menggunakan simbol-simbol untuk menggambarkan Roh Kudus. Ada tiga simbol: angin, nyala api dan kemampuan lidah berbicara. Ketiga simbol itu ingin mengatakan kepada kita siapa Allah Roh Kudus itu.

Dalam Kitab suci kata angin  diartikan sebagai ‘nafas’ atau ‘roh’. Manusia pertama diciptakan dengan mengembuskan nafas ke dalam diri manusia sehingga ia hidup. Anak lahir dan mulai hidup ditandai dengan adanya nafas, dan akhir hidup ditandai dengan berhentinya bernafas. Maka Roh Kuduslah yang memberi kita nafas kehidupan, kita dan nafas kehidupan Gereja, Umat Allah.

Nafas Ilahi yang diberikan oleh Roh Kudus, memberikan kepada Gereja kemampuan untuk selalu memperbarui diri. Gereja dalam perjalanan sejarah jatuh dalam dosa dan kesalahan-kesalahan. Tetapi Gereja juga lalu bangkit berkat kuat kuasa Roh Kudus yang tercurahkan. Roh Allah ada dalam Gereja. Gereja bukan hidup dari kekuatannya sendiri melainkan dari nafas kehidupan Ilahi dari Roh Allah.

Dan api, api itu selalu menghangatkan atau malahan membakar, sebagai daya transformasi karya Roh Kudus dalam hidup kita. Yesus Kristus adalah Dia, “yang membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api” (Luk 3:16) Roh Kudus diumpamakan sebagai api karena Roh Kudus membakar semangat kita umat manusia. Yesus menandaskan bahwa ia datang ‘untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku mengharapkan , api itu telah menyala ” (Luk12:49). Dengan semangat yang menyala-nyala sebagaimana para murid, kitapun yang berkumpul menunggu datangnya Roh Kudus, juga akhirnya perlu keluar memberi kesaksian di tempat kita hidup dan di tempat kita bekerja, ya ke seluruh dunia. Kita menjadi saksi iman akan Yesus Kristus yang bangkit.

Sedangkan simbol yang ketiga adalah ‘kemampuan lidah untuk berbicara’ untuk mewartakan INJIL. Macam-macam bahasa dikatakan keluar dari mulut para rasul di hari agung Pentakosta. Inilah lambang karya dan pelayanan Gereja sepanjang sejarah mewartakan Injil kepada semua bangsa dalam segala bahasa tentang kebenaran dalam mengenal Allah. Kebenaran tentang Allah yang Mahaada, yang mencintai kita tanpa syarat dan yang ingin keselamatan lahir batin kita semua di bumi dan di akhirat. Ia inginkan agar kita juga saling mencintai satu sama lain, berpeduli, saling memperhatikan dan saling membantu sebagai putera-puteri Allah Bapa.

Sumber: Novena Pentakosta – Subroto Wijojo SJ

========================================================================================================

Bacaan dari 1 Petrus 1; 8-16

Bacaan dari Kitab Kisah para Rasul 1:13-14; 2:1-4

Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.  Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Leave a Reply

Required fields are marked *.