Fiat Voluntas Tua

Diutus Untuk Melayani – Mgr Ign. Suharyo

| 0 comments

Pada tanggal 12 Agustus 2011, di adakan Talkshow bersama Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo. Di adakan oleh Sekolah Evangelisasi Pribadi Eksekutif yang berada di bawah naungan Shekinah.  Talkshow di adakan di gedung PPM, di pandu oleh Ratna Ariani.  Berikut ini adalah rangkuman dari Talkshow dengan Mgr, yang di rangkum oleh Taufik Hidayat.

SESSI 1

Dalam penugasan sebagai Uskup Agung Jakarta yang merupakan pusat pemerintahan dan kota metropolitan, apakah yang menjadi keprihatinan Mgr. yang mendalam sehingga lahir Arah Dasar Pastoral KAJ (Keuskupan Agung Jakarta) ?

Bertitik tolak dari masalah besar yang amat mendasar umat saat ini adalah arus sekularisme yang menjadi arus besar bermula mulai dari era ditemukannya mesin pada masa revolusi industri di Inggris dan Eropa. Gejala seperti inipun dijumpai pada Kitab Suci Perjanjian Lama dimana Kain dan Habel (Kej 4:1-16) terjadi pada situasi perubahan masyarakat pengembara (yang direpresentasikan oleh Habel) menjadi masyarakat (petani) yang menetap (direpresentasikan oleh Kain). Sebagai masyarakat pengembara yang hidup berpindah-pindah dengan kehidupan yang tidak menentu maka berkonsekuensi memiliki kepercayaan yang mutlak pada perlindungan Allah sehingga Habelpun memberikan persembahan yang terbaik dari hasil usahanya sebagai gembala kambing domba yakni anak sulung dari kambing dombanya yang kemudian diindahkan oleh Tuhan (Kej 4:4). Sedang sebagai petani yang sudah menetap dan mulai merasakan kemapanan dalam hidupnya (menabung, bisa merencanakan hari depannya), ketergantungan pada Allahpun mulai berkurang; maka Kainpun memberikan persembahan seadanya sehingga tidak diindahkan oleh Allah dan menimbulkan iri hati pada Kain yang membuatnya membunuh Habel.

 Arus seperti inilah yang terjadi pada masa kini, maka menjadi tugas alumni SEP/KEP bersama Gereja untuk terus menerus mewartakan Kabar Baik pada sesamanya agar Tuhan kembali menjadi sumber/muara dari segala sesuatu dalam kehidupannya.

Maka Ardas (Arah Dasar) Pastoral KAJ ditempatkan pada perspektif tersebut di atas.

Gereja Katolik yang sudah berusia 2 abadpun sudah berkembang menjadi organisasi yang sangat besar sehingga sangat sulit untuk bergerak. Gereja Katolik harus berubah agar tetap dapat terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang seolah berjalan sendiri di luar Gereja tanpa harus kehilangan kewajibannya sebagai pewarta Kabar Baik. Gereja Katolik harus semakin hidup dinamis dengan memasukkan perkembangan ilmu pengetahuan seperti dalam  bidang telekomunikasi, sumber daya manusia (HRD), hubungan masyarakat (Public Relation).

Dalam konteks itu maka Visi dan Misi Keuskupan Agung Jakarta supaya dirumuskan bersama berbagai pihak (para imam, suster, bruder, dan awam- dimana biasanya dilakukan oleh 4-5 kuria saja) menjadi suatu Arah Dasar Pastoral Keuskupan yang akan menjadi suatu ‘cita-cita’ bersama segenap komponen Keuskupan Agung Jakarta, Tangerang dan Bekasi.

 Inti dari Arah dasar terletak pada alinea pertama yang diharapkan akan berlangsung sepanjang hidup manusia, dimana Gereja bercita-cita untuk senantiasa memperdalam imannya akan Yesus Kristus, selanjutnya dengan iman ini maka akan terbangun suatu persaudaraan sejati dan akhirnya bilamana persaudaraan yang ‘betul-betul’ sejati sudah terbangun maka dengan sendirinya akan timbul keinginan untuk melayani dengan lebih sungguh-sungguh dalam masyarakat.

 SEJALAN DENGAN TEMA TALK SHOW ‘DIUTUS UNTUK MELAYANI’, APAKAH ADA MISI-MISI DALAM KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA YANG BISA DILAKSANAKAN OLEH ALUMNI SEP-EX YANG NOTABENE TERDIRI DARI PARA PENGUSAHA, EKSEKUTIF DAN PROFESIONAL DENGAN BERBAGAI LATAR BELAKANG BIDANG USAHA DAN PELAYANAN ?

Untuk menjawab pertanyaan ini, maka marilah kita renungkan kembali Mrk 1 : 17 “”Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Ajakan Yesus untuk mengikuti dia dalam ayat ini mengandung dinamika antara kontemplasi – praktis, mistik – politik. Mengikuti Yesus bisa berbeda-beda makna dan pengalaman iman yang dialami antara orang yang satu dengan orang yang lainnya, tetapi pada dasarnya dengan mengalami sentuhan Roh Kudus, seseorang yang mempunyai pengalaman akan Allah merasa hidupnya menjadi diberkati dan secara otomatis akan melakukan pelayanan seturut dorongan Roh Kudus yang ada dalam dirinya sehingga pelayananpun akan berjalan dengan sendirinya tanpa dipaksa ataupun menuruti rencana dan kemauannya sendiri.

Dalam 2 Kor 4 : 6 “Dari dalam gelap akan terbit terang !” seruan Allah yang diambil Paulus dari Kej 1:3 merupakan kisah perjumpaan Paulus dengan Yesus di Damsyik dimana dia dibutakan selama 3 hari oleh silau cahaya yang memancar dari langit (Kis 9 : 8) dan melalui Ananias ia disembuhkan, dipenuhi oleh Roh Kudus dan dibabtis. Dalam perjumpaan dengan Yesus, Paulus telah mengalami perubahan menjadi ciptaan baru.

Bagaimana perutusan yang harus dijalankan – kebiasaan minta arahan/petunjuk ini menurut Mgr harus diubah – dapat mengacu pada Ajaran Sosial Gereja, yang dapat diringkas menjadi 3 langkah sebagai berikut :

  1. Mesti membuat suatu ketegasan bersama dengan membuat analisis situasi sosial, politik, ekonomi di negara kita araupun mengacu pada analisis yang sudah ada mengenai kondisi bangsa kita
  2. Dari analisis tersebut dibuatlah suatu tantangan iman
  3. Kita merumuskan pertanyaan : “Apa yang bisa kita buat supaya kehidupan di lingkungan/sekitar kita menjadi semakin manusiawi ?

Sebagai contoh, mengapa banyak terjadi kekerasan dan kemiskinan di sekitar kita ?

Untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan suatu kompetensi etis yang meliputi 2 hal :

  1. Compassion atau bela rasa dengan mengembangkan hati seperti Yesus sebagaimana menurut Injil betapa seringnya Yesus “tergerak hatinya” oleh belas kasihan. Meskipun demikian tidak serta merta Yesus memberikan kasih-Nya, tapi Dia senantiasa bertanya terlebih dahulu “Apa yang kau mau daripada-Ku ?” baru setelah itu Yesus melakukan apa yang dikehendaki orang itu untuk dilakukanNya. Kisah Kristus dalam Kitab Suci inilah yang hendaknya menjadi inspirasi iman kita dalam berbela rasa bagi sesama. Dalam Luk 6 : 36 Yesus mengajar kita untuk “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” ; Sejalan dengan Mat 5 : 48 “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang disorga adalah sempurna.” Maka kata ‘murah hati / bela rasa’ berpadanan dengan kata ‘sempurna’.
  2. Kerja sama dimana pelayanan tidak akan dapat dilakukan sendiri-sendiri karena begitu banyaknya persoalan di sekitar kita yang dapat menimbulkan rasa frustasi bila tidak dilakukan dalam kebersamaan. Seperti misalnya pada tahun 70-an di Amerika banyak orang yang berdemo untuk menghentikan perang sementara pemerintah tak bergeming dan tetap berperang, karena usaha demo dilakukan sendiri-sendiri akhirnya banyak orang yang mengalami frustasi hebat sehingga akhirnya harus dirawat.

 BAGAIMANA MENGGUNAKAN KEKUATAN YANG ADA DALAM GEREJA KATOLIK DALAM MENGHADAPI MASALAH DUNIA ?

Hendaknya dibedakan istilah optimisme dengan harapan, karena optimisme mempunyai tataran mental/psikologi yang berkaitan dengan jiwa kita dimana apabila suatu optimisme tidak tercapai maka akan timbul kekecewaan, kepesimisan yang bisa menimbulkan rasa frustasi. Hal ini berbeda dengan pengharapan yang mempunyai tataran keilahian dan berkaitan dengan roh dan keyakinan iman kita. Sebagaimana dalam Fil 1 : 6 “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya.”

Jadi seandainya dalam suatu pelayanan saya tidak berhasil maka saya tetap akan bertekun dengan keyakinan iman bahwa meskipun saya gagal maka Allah tidak akan pernah gagal.

Harapan akan membuat kita tetap bekerja sebaik-baiknya meskipun kita tahu belum tentu berhasil. Harapan juga tidak akan menjadikan kita sombong apabila pekerjaan atau pelayanan kita berhasil karena kita mengimani bahwa jika pelayanan berhasil dengan baik maka keberhasilan itu semata-mata merupakan karya Allah.

Pelayanan dapat dilakukan bahkan melalui pelayanan-pelayanan dalam lingkungan kecil, sebagaimana bagian doa Bapa kami yang sering kali di doakan “Datanglah Kerajaan-Mu” senantiasa dengan pengharapan bahwa Kerajaan Allah akan hadir di lingkungan sekitar kita melalui pelayanan kita.

Sebagai misal, di paroki Cilincing ada karya Akma Brata (Akma = jiwa/keheningan, Brata = Karya) dimana dalam sebuah rumah sederhana milik Paroki ada 3 orang ibu-ibu memakai kerudung sudah 1 tahun ini melakukan pekerjaan masak untuk 86 lansia yang tidak punya sanak saudara. Juga dalam suatu perkampungan ‘kumis’ (kumuh dan miskin); Seorang pemuda rela meninggalkan pekerjaannya untuk memberikan pendampingan ibu-ibu dalam membina suatu koperasi untuk membantu warga lepas dari jeratan hutang pada rentenir, koperasi ini juga bisa memproduksi tas-tas dari bahan sisa-sisa platik; Ibu-ibu WKRI yang membuat 3 TPA (Tempat Penitipan Anak) di sekitar pabrik-pabrik di Cengkareng (1 buah) dan 2 buah di Tangerang untuk membantu pasangan-pasangan yang bekerja sehingga tidak dapat mengurus anak mereka.

Sering kali kita mengalami penurunan semangat setelah melalui beberapa pelayanan, apakah ada tip agar senantiasa menyala-nyala dalam pelayanan.

Jawaban terhadap masalah ini adalah berkomunitas dalam menyelesaikan masalah-maslaah di lingkungan kita, tetapi masalahnya hidup berkomunitas di Jakarta tidak gampang karena kesibukan setiap individu sehingga sering terjadi berjalan sendiri-sendiri. Maka harus dicoba dicari jalan yang terbaik bagaimana dapat tetap hidup dalam komunitas di tengah kesibukan hidup di kota besar misalnya dengan melakukan tugas perutusan di tempat kerja masing-masing dan harus disadari adanya 2 macam ketentuan/tuntutan umum dan ketentuan/tuntutan khusus yang masing-masing dapat menjadi jalan keluar penyelesaian suatu masalah.

Sebagai contoh, bagaimana memenuhi ketentuan umum dalam persiapan babtis dimana seorang calon babtis harus mengikuti 40 kali pelajaran katekumen sementara karena kesibukan dan mobilitas pekerjaannya dia tidak akan pernah bisa menghadiri 40 kali pelajaran tersebut secara penuh, maka secara umum dia tidak akan pernah dapat di babtis karena persyaratan/ketentuan umum tersebut. Tetapi dengan adanya ketentuan khusus, maka calon babtis dapat diberikan solusi dengan memberikan buku Iman Katolik untuk dipelajari dalam suatu waktu dan dijadwalkan beberapa pertemuan untuk berdiskusi apabila ada hal-hal dalam buku tersebut yang perlu mendapat penjelasan. Masalahnya di (Sekretariat) Gereja ataupun pada beberapa Imam adakalanya dijumpai “virus birokrasi – jika bisa dipersulit kenapa harus dipermudah ?” yang kadang membuat suatu masalah yang bisa diselesaikan dengan kondisi khusus menjadi kondisi yang mempersulit umat mendapatkan pelayanan yang diperlukannya.

Sering juga dalam hidup berkomunitas di lingkungan timbul konflik-konflik yang seharusnya bisa dihindarkan akibat tingginya target yang ditetapkan, padahal dalam kondisi tertentu suatu target pelayanan dapat ‘diturunkan’ dengan hati yang lapang (Ya sudahlah …..) dalam rangka mencapai tujuan murni hidup berkomunitas yaitu bersama-sama mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus.

Demikian juga dalam hidup berkomunitas sering timbul konflik akibat terjadi beda pendapat yang bisa dihindari dengan mempertimbangkan bersama suatu keputusan dari analisis SWOT (strength – weakness – opportunity – threat) dan kondisi-kondisi di lapangan dengan sikap saling menghargai pendapat orang lain ataupun juga dengan membawa permasalahan untuk diputuskan otoritas Gereja seperti Imam.

 Misalnya dalam suatu kepanitiaan Paskah, pernah diributkan untuk Misa Minggu Palma perlu menggunakan perarakan atau tidak maka keputusan dapat dilakukan berdasarkan kondisi gereja dan umat ataupun diputuskan bergantian tahun ini dan tahun depannya atau bisa juga keputusan diserahkan pada Imam yang akan memimpin Misa Minggu Palma saat itu.

Dalam acara persekutuan doa pada masa APP (Aksi Puasa Pembangunan – Paskah), seringkali konflik terjadi karena acara sharing berubah menjadi ajang perdebatan yang bisa diatasi dengan menegaskan kembali bahwa sharing merupakan kisah iman seseorang dalam mengalami perubahan akibat peran Tuhan dalam hidupnya yang tidak memerlukan tanggapan yang dapat berubah menjadi debat kusir yang tidak perlu (umat yang lain cukup mendengarkan saja).

 Jika diusut lebih lanjut, maka akar permasalahan konflik dalam pelayanan secara umum adalah soal kekuasaan yang memang sudah ada sejak masa manusia pertama (yang mau makan buah kehidupan agar bisa menyamai Allah yang menciptakannya) dan pembangunan menara babel (yang mau menciptakan bangunan yang dapat mencapai langit/surga).

 Maka yang diperlukan untuk menghindarkan konflik akibat kekuasaan ataupun kesombongan iman adalah dengan membangun spiritualitas pelayanan dengan meningkatkan semangat kerendahan hati. Perkataan menjadi pejabat Gereja sebaiknya diganti menjadi pelayan Gereja, ” menduduki=”" suatu=”" jabatan=”" sebaiknya=”" diganti=”" menjadi=”">mengemban suatu jabatan sehingga mentalitas /spiritual tugas pelayanan tersirat dalam perkataan itu dan kitapun dapat melakukan pelayanan dengan segala kerendahan hati.

Mgr mempunyai moto “Aku melayani Tuhan dengan segala kerendahan hati” (“Serviens Domino cum omni humilitate”), bagaimana tips untuk senantiasa hidup dalam kerendahan hati agar kita senantiasa tetap mampu memahami posisi kita dalam hidup maupun dalam pelayanan kita ?

 Kerendahan hati dalam bahasa Inggris adalah “humble” yang berasal dari kata Latin “humilis” yang berasal dari kata dasar “humus” yang berarti lapisan tanah hitam yang sangat subur dimana segala biji yang ditanam di atasnya akan tumbuh dengan subur. Maka apabila kita dapat menjadikan kerendahan hati menjadi keutamaan dasar hidup kita, maka diharapkan hidup kita akan menjadi lahan subur bagi benih-benih iman dalam hidup kita.

engan kerendahan hati maka kita menjadikan hati kita seluas-luasnya hingga seluas lapangan St Petrus di Vatikan. Kita seringkali merasa penting dalam tugas-tugas kita tapi hendaknya kita juga senantiasa menyadari keterbatasan kita  dengan kerendahan hati agar dapat melakukan segala tugas pelayanan bersama-sama teman sekerja dalam komunitas dan kita dapat terus menerus bekerja dalam pelayanan sampai kita memahami hakekat kebenaran sejati dalam makna persaudaraan sejati dalam pelayanan kasih di tengah masyarakat sebagai murid-murid Kristus yang sejati.

 Kerendahan hati adalah dasar dari segala keutamaan dasar yang menjadi tempat segala benih bertumbuhan.

Hal tersebut mudah untuk dikatakan tapi sulit untuk dilaksanakan. Hal tersebut terlihat juga dalam Kitab Suci, dimana pertumbuhan iman seorang Paulus nampak dalam surat-suratnya. Pada surat-suratnya yang awal, Paulus seringkali dengan nada “angkuh’ (Gal 1 : 24) mengaku sebagai rasul yang paling benar, dan seringkali bertentangan dengan rasul yang lain seperti Petrus (Gal 2 : 11) dan Barnabas (Gal 2 : 13b) seperti dalam suratnya kepada jemaat di Galatia ditulisnya dalam tinta marah yang menunjukkan kemarahannya pada umat disana, sedang Markus dikatakannya sebagai orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau bekerja sama dengannya (Kis 15 : 38). Tetapi setelah berusia lanjut, Paulus tidak lagi menyebut dirinya sebagai rasul melainkan sebagai pelayan (Kol 1 : 25) dan diapun akhirnya mengakui bahwa pelayanan Markus penting baginya (2 Tim 4 : 11).

SESSI 3

Pertanyaan Bapak Puspo

Dalam keinginan melayani dalam Keuskupan Agung Jakarta dengan memberikan seminar Fall Prevention bagi lansia ternyata hanya memperoleh tanggapan dari 6 paroki. Apakah program tersebut dapat masuk dalam program KAJ mengingat di luar negeri seperti di Amerika, pencegahan jatuh pada orang-orang berusia lanjut sangat diperlukan ?

Situasi masyarakat di Indonesia belum bisa dibandingkan dengan masyarakat di negara maju. Hal ini harus bisa diterima dengan terbuka, mengingat seringkali di negara kita orang-orang lemah masih direndahkan martabatnya. Misalnya pejalan kaki di negara maju sangat dihormati oleh pengendara mobil tanda kemajuan tingkat peradaban mereka, sedangkan di negara kita masih belum tercapai kesadaran kemanusiaan yang tinggi justru pejalan kaki sering was-was karena seringkali tidak diacuhkan kehadirannya di jalan raya sehingga mudah menjadi korban kecelakaan oleh pengendara mobil. Contoh lain adalah anak-anak cacat di negara maju dipelihara dari hasil pemasukan pajak warganya, sedangkan di negara kita anak-anak cacat ditelantarkan dan diserahkan saja pada keluarga serta masyarakat.

Di KAJ sudah ada organisasi yang mengurusi masalah Lansia, misalnya mereka pernah mengadakan seminar tentang “Bagaimana mengatasi pikun pada orang Lansia”; tetapi sama seperti kasus dalam pertanyaan di atas hanya sedikit dari 61 paroki KAJ yang menanggapi.

Istilah Lansia sendiri menurut Mgr lebih tepat jika diberi istilah ‘Adhi Yosuo’ yang berarti usia mulia agar di dalam istilah ini terkandung harapan agar setiap orang dapat menjadi tua secara anggun (‘graciously’) dan tidak mudah mengeluh atau marah-marah akibat kekurang perhatian dari lingkungannnya. Program Fall Prevention akan diperkenalkan pada pengurus organisasi yang mengurusi masalah Lansia tersebut agar dapat diusahakan bersama penyelenggaraannya. 

Pertanyaan Bapak Sutikno

Bagaimana melakukan pelayanan dalam rangka memerangi kemiskinan yang tidak cukup dengan doa dan pelayanan belaka melainkan dengan suatu aksi nyata.

Seperti apapun kemajuan suatu negara, tetap selalu ada orang miskin (Ul 15 : 11; Mat 26 : 11) dan ini akan terus menerus menjadi tantangan kita sampai akhir zaman dimana disitulah senantiasa diperlukan evangelisasi yang terus menerus bagi sesama kita dimana kuasa Allah justru akan ditampakkan dan menjadi sempurna (2 Kor 12 : 9).

Paus Benediktus XVI membawa misi untuk melakukan reevangelisasi Eropa dengan membentuk Dewan Kepausan Reevangelisasi Eropa untuk mengkristenkan kembali Eropa agar budaya Kristiani yang sudah mulai menghilang dapat dihidupkan kembali – bukan tanpa sengaja penggunaan nama Benediktus oleh Bapa Paus, mengingat Paus Benediktus merupakan Paus yang pertama kalinya mengkristenkan Eropa (lihat juga terjemahan kotbah Bapa Paus tentang peran agama dan bahaya sekularisme yang merontokkan Eropa dan mengintip Amerika dan benua lainnya yang sudah diposting Ratna Ariani, dimana pada Hari Orang Muda Sedunia 2011, yang akan diselenggarakan di Madrid tgl 16-21 Agustus, adalah momen penting di mana Paus Benedictus akan mengingatkan akar-akar kekristenan Eropa dan mengajak Eropa memahami kembali nilai-nilai demokrasi).

Pada prinsipnya, suatu pewartaan Injil tanpa menyentuh pengembangan martabat manusia bukanlah pewartaan Injil yang sebenarnya. Adanya Sekolah Evangelisasi Pribadi diharapkan mampu memaknai evangelisasi dengan pewartaan Injil yang sejati dimana martabat manusia semakin dihargai dan dikembangkan.

Dalam Pertemuan para Uskup Asia tahun 1974, dibahas 3 hal penting yang menyangkut martabat manusia :

  1. Orang Miskin

Sabda bahagia yang pertama “Berbahagialah orang yang miskin” tidak dapat disalah interpretasikan agar orang miskin tetap tinggal miskin, melainkan harus dicarikan jalan agar orang miskin dapat memperoleh peningkatan taraf hidupnya dan tidak tinggal tetap miskin. Pewartaan Injil justru harus membuat manusia menjadi semakin secitra dengan Allah sebagaimana waktu awal mula diciptakan. Kebodohanpun juga harus dilawan, misalnya Keuskupan Agats, Papua telah bekerja sama dengan Kompas mendirikan sekolah agar masyarakatnya menjadi semakin cerdas dan menjadi pribadi-pribadi yang serupa dengan Allah.

  • Budaya : masih banyak hal yang bisa diperdebatkan dalam kebudayaan antar bangsa
  • Dialog antar agama : dibuka pintu yang selebar-lebarnya agar diperoleh suatu sikap toleransi antar umat beragama sebagai suatu bagian dari martabat manusia yang harus dijunjung tinggi

Dari kenyataan diatas, seperti apapun Gereja Katolik membanting tulang atau mencurahkan segala upayanya untuk mengentaskan kemiskinan dalam negara kita tidak akan pernah mampu tercapai. Perlu disadari posisi tanggung jawab mengentaskan kemiskinan terletak mutlak pada negara yang telah memungut pajak dari rakyatnya. Jika Gereja turut serta dalam usaha pengentasan kemiskinan, maka usaha Gereja itu merupakan suatu panggilan untuk berkarya dalam rangka mewartakan Kabar Baik. Sehingga apabila ternyata Gereja tidak bisa mengentaskan kemiskinan secara total janganlah berkecil hati dan tetaplah melakukan hal-hal yang terkecil sekalipun yang bisa dilakukan untuk turut serta dalam upaya-upaya itu.

Sebagai contoh adalah gerakan Gereja Katolik tentang “Economy of Sharing/Co-union” yang kini telah dijalankan oleh 745 perusahaan di dunia yang dimulai oleh Chiara Lubich dengan gerakan Focolare setelah melihat kondisi kemiskinan di Brazilia (lihat juga buku The Catholic Way halaman 108 dan artikel dalam bahasa Inggris terlampir mengenai tanggapan PBXVI) yang sesuai dengan pertanyaan di awal “Apakah yang bisa kita buat untuk mengentaskan kemiskinan ?”

Dalam sistem economic of sharing, keuntungan perusahaan dibagi menjadi 3 yakni untuk orang miskin, untuk seminar/pembinaan dan retret yang diperuntukkan bagi pribadi-pribadi yang mau berbagi dan untuk pengembangan perusahaan itu sendiri. Perusahaan itu juga tetap menjalankan perusahaannya dalam prinsip-prinsip fair-play, seperti tidak mempekerjakan anak, tidak membuang limbah, dan sebagainya; dan dengan penerapan economy of sharing yang demikian tidak menjadi bangkrut bahkan semakin berkembang. Sepertiga lagi keuntungan ditanamkan lagi kedalam usahanya.

Di Eropa sendiri tengah berkembang Fair Trade dimana perusahaan yang terlibat akan memberikan porsi keuntungan yang lebih besar pada petani atau produsen di bagian hilir. Mereka mempeajari dari secangkir kopi seharga Rp 50 ribu ternyata hanya 7 % diterima petani, sebagian besar justru pada pemilik merek dagang dan perantara yang resiko usahanya lebih kecil dibanding para petani yang sangat tergantung pada alam. Maka berkembanglah Fair Trade, suatu prinsip ekonomi yang membagi porsi keuntungan secara adil kepada produsen asal.

Penutup

Di negara kita konteks manusia beragama masih belum sampai pada tahap manusia beriman. Hal ini nampak dari makin banyaknya tempat ibadah tetapi korupsi dan kekerasan juga makin bertambah banyak, karena agama telah banyak dimanipulasi untuk membenarkan korupsi maupun kekerasan yang dilakukan. Karena itu panggilan kita adalah untuk menjadi manusia beragama sekaligus manusia beriman, karena jika agama bisa dimanipulasi tetapi iman tidak dapat dimanipulasi.

(Taufik Hidayat)

Leave a Reply

Required fields are marked *.