Fiat Voluntas Tua

Kapan Bicara? Kapan Diam? Kapan Ikut?

| 0 comments

Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!”

Di era digital seperti ini bukan jamannya lagi informasi dibendung dengan cara bredel, sensor, melarang internet dsb. Apa yang terjadi di berbagai negara di timur tengah dimulai dengan Tunisia, Mesir merambat ke Yaman, bahkan China mulai memblokir kata ‘egypt’.  Gejolak protes sempat merebak juga di jejaring sosial disini saat BB akan diblokir pemerintah.  Dari beberapa kejadian ini dapat dilihat sejauhmana penguasa efektif dalam menyelenggarakan kesejahteraan rakyat. Semakin kuat tekanan yang dialami rakyat, semakin besar kesenjangan ekonomi yang terjadi, maka kesabaran rakyatpun ada batasnya. Semakin besar tekanan, semakin besar pula reaksi perlawanan yang terjadi. Teknologi digital memungkinkan informasi tersebar dari bawah ke atas bahkan horisontal dalam hitungan detik, meliwati batas waktu dan negara. Tekanan itulah yang menjalar dengan cepat ke negara-negara lain, bahkan walaupun internet dan SMS sudah tidak bisa, komunikasi dilakukan keluar Mesir lewat morse!

Bukankah gejala yang serupa dialami juga oleh para murid sepeninggal Kristus? Mereka dikejar-kejar dan dicari kemana-mana, sehingga mereka harus menyingkir sambil terus memberitakan Injil. Semakin ditekan, semakin Injil tersebar sehingga Kabar Baik tidak hanya bagi sesama bangsa Israel tetapi juga sampai ke bangsa-bangsa lain, termasuk sampai ke Indonesia. Mereka memberitakan Kabar Baik tanpa diliputi rasa ketakutan lagi dan berani  melakukan apa yang telah diajarkan Yesus. Mereka tahu itulah saatnya berbicara atas berbagai kesaksian akan Yesus Kristus.

Selama bersama Yesus, para murid belajar mengetahui berbagai ajaran dan perintah Kristus. Ia menyembuhkan banyak orang, tetapi juga meminta mereka untuk tidak memberitahukan kepada yang lain sebelum Ia selesai berkarya. Saat bertemu beberapa orang Ia memintanya untuk menjadi pengikutNya. Tetapi ada juga saatnya Ia menolak untuk diikuti dan menyuruh orang yang sudah disembuhkan itu untuk pergi dan memberitakan apa yang telah diterima dari Kristus.

Injil hari ini mengisahkan Yesus menolak orang yang ingin mengikutiNya setelah disembuhkan. Memang sulit menebak apa yang diinginkan Yesus saat itu. Para rasul tentunya lebih senang kalau ada tambahan murid baru, sama senangnya bila kita menerima anggota baru di organisasi. Mereka mungkin heran, apa salahnya orang ini mengikut Yesus, toh sama seperti mereka juga meninggalkan keluarga untuk mengikuti Yesus. Orang itu mungkin juga sudah dibuang keluarganya karena dianggap ‘orang gila”.

Disinilah pentingnya melatih karunia ‘discernment’ melatih diri mengenali mana keinginan Tuhan, mana keinginan manusia termasuk keinginan kita dan orang lain. Orang yang kerasukan itu sudah di cap sampah dan dibuang oleh masyarakatnya. Ia merasa sudah tidak ada artinya lagi karena disingkirkan. Iapun juga takut untuk kembali ke kampungnya karena belum tentu orang akan menerimanya kembali. Maka ia memilih yang aman, pergi saja menyingkir dari tempat itu dan satu-satunya cara adalah mengikuti Yesus.  Yesus menolaknya, Yesus melihat berkat yang lain dibalik kesembuhannya dari kerasukan setan. Ia disuruh berbalik arah, kembali ke keluarganya. Ia diminta bertobat dari ketakutannya dan kembali kepada keluarga. Ia harus berani menghadapi keluarga dan masyarakat yang menyingkirkannya terutama karena Ia telah disembuhkan oleh Kristus. Ia menurut dan percaya bahwa Yesus memberikan yang terbaik sehingga kemana-mana ia pergi Kristuslah yang ia beritakan. Ia tidak meninggikan dirinya tetapi ia meninggikan Kristus yang menyembuhkannya. Akhirnya orang-orang percaya dan menerima pengajaran Kristus akibat dari kesaksiannya.Ia telah berhasil mengalahkan keinginan pribadinya dan memilih mengikuti kehendak Tuhan.

Dalam kehidupan kita, tentu banyak kesempatan kita untuk berbicara, diam dan bahkan ikut trending topic atau follow teman di twitter. Kita bisa bicara apa saja, atau kita berdiam diri bahkan memilih seperti orang-orang yang mengusir Yesus, meminta Yesus pergi dari kehidupan mereka. Dalam pilihan yang sulit memang ada baiknya kita berdiam diri sejenak, menanyakan pada diri kita sendiri, apa yang kuinginkan dari keadaan ini? Apa kira-kira yang Yesus inginkan aku lakukan saat ini? Jawabannya bisa bertolak belakang. Umumnya memang kehendak Tuhan bisa tidak sejalan dengan kemauan kita, kita pasti pilih yang aman dan nyaman, Kita takut menghadapi penolakan, kita takut menghadapi resiko gagal. Tetapi yang jelas kalau kita memilih ikut apa yang Tuhan mau kita lakukan, hasilnya pasti jauh berlipat ganda dari yang kita pernah bayangkan.

So, kapan kita bicara, kapan diam dan kapan ikut Tuhan? seperti para murid mereka akhirnya terbiasa dengan berbagai latihan saat bersama dengan Yesus, sehingga mereka tahu saat terbaik untuk memberitakan Kabar Baik. Para murid melatih diri saat bersama-sama dengan Yesus, mereka mencoba memahami apa kehendak hati Yesus. Mereka belajar berdoa seperti Yesus dan akhirnya mereka bisa  meninggalkan ketakutannya dan melakukan banyak hal yang jauh lebih besar dari yang dilakukan Yesus seperti yang tertulis di kitab Kisah Para Rasul. Bagaimana dengan kita sebagai rasulNya?

 


==============================================================================================

Bacaan Injil Mrk 5:1-20

“Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu. Adalah di sana di lereng bukit sejumlah besar babi sedang mencari makan, lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, katanya: “Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!” Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya. Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi. Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan legion itu. Maka takutlah mereka. Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceriterakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu. Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka. Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!” Orang itu pun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran”

Leave a Reply

Required fields are marked *.