Fiat Voluntas Tua

SURAT GEMBALA PADA AKHIR TUGAS PENGGEMBALAAN DI KEUSKUPAN BANDUNG

| 0 comments

Allah memberi pertumbuhan (1 Kor 3, 6)

Sumber http://pujasumarta.multiply.com/journal/item/296/Surat_Gembala_Pada_Akhir_Tugas_Penggembalaan_

Saudari-saudaraku  terkasih dalam Tuhan,

Pada akhir tugas penggembalaan sebagai Uskup Keuskupan Bandung melalui Surat Gembala ini saya ingin pamitan, mohon diri kepada seluruh umat Katolik Keuskupan Bandung, karena tentu tidak semua umat dapat menghadiri perayaan Ekaristi pamitan pada hari Minggu, 2 Januari 2011, yang diselenggarakan di Gereja Katedral Santo Petrus Keuskupan Bandung.

Rasa saya belum lama peristiwa iman tahbisan Uskup tanggal 16 Juli 2008 terjadi. Kurang lebih dua setengah tahun yang lalu saya mulai tinggal di Bandung, di tempat kediaman bersama Kuria Keuskupan Bandung. Tempat kediaman itu biasa kami sebut Green House (GH) atau Griya Hijau. Kami merasa bahagia hidup bersama di lingkungan hijau tersebut. Di halaman depan GH saya tanam beberapa pohon manglit (Sunda), atau kantil (Jawa). Karena tanah subur kaya humus, beberapa pohon manglit tumbuh subur. Saya berharap empat lima tahun lagi akan keluar bunga harum dari pohon itu. Dan bila berbuah, bijinya dapat disebarluaskan di tempat-tempat lain, agar harum semerbak bunga manglit itu membuat orang-orang kerasan hidup di muka bumi ini.

Suatu kali saya lihat bagian pucuk pohon itu terpangkas, entah oleh siapa. Saya sedih menyaksikan kejadian itu, jangan-jangan pohon itu terganggu pertumbuhannya. Terasa ada sesuatu yang hilang dalam hati saya. Perasaan sakit karena kehilangan itu terobati, ketika saya menyaksikan pada pokok pohon manglit itu tumbuh tunas-tunas baru yang subur pula. Perasaan hati seperti itulah yang menghinggapi saya, ketika diumumkan secara resmi penugasan saya menjadi Uskup Keuskupan Agung Semarang pada Jumat, 12 November 2010. Rasa menjadi bagian pada kenyataan Bandung, Jawa Barat, dilukai oleh penugasan baru tersebut. Kebersamaan dengan seluruh umat Keuskupan Bandung terasa tersobek.

Namun, pertumbuhan tunas-tunas baru pohon manglit menghibur hati saya. Saya teringat renungan santo Paulus mengenai tugas perutusannya menjadi pewarta firman pada umat di Korintus. Ia katakan, ”Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan” (1 Kor. 3, 6). Allah-lah yang memberi pertumbuhan pada benih-benih iman yang mempersatukan kita menjadi Gereja.  Kita sekedar meneruskan untuk menanam dan menyiram. Telah kita sepakati bersama melalui Musyawarah Pastoral yang kita lakukan, dan kemudian kita nyatakan dalam Arah Dasar Keuskupan Bandung, 2010 – 2014, bahwa  kita, umat Allah Keuskupan Bandung, bercita-cita menjadi komunitas yang hidup, mengakar, mekar  dan berbuah.

Cita-cita tersebut sama dengan cita-cita para misionaris perintis yang telah menabur benih-benih firman Tuhan di Tatar Sunda ini. Kita melanjutkan saja apa yang telah mereka mulai, menyebarkan benih-benih firman di Tatar Sunda. Kita upayakan tanah Sunda makin subur berhumus, dengan mengembangkan keutamaan kerendahan hati agar pekerjaan Allah kita utamakan melalui hidup dan pekerjaan yang dipercayakan kepada kita.  Kesadaran iman bahwa Allah yang memberi pertumbuhan sungguh membesarkan hati kita. Tidak ada sesuatu pun yang hilang di antara kita. Yang telah tumbuh  akan semakin hidup subur, mengakar, mekar dan berbuah.

Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Tuhan,

 

Kita bersyukur boleh menyaksikan pekerjaan-pekerjaan Tuhan dalam hidup Gereja Katolik  di Indonesia, dan khususnya Gereja Katolik Keuskupan Bandung. Terutama pada tahun 2011 kita bersyukur karena 50 tahun yang lalu Paus Yohanes XXIII telah berkenan menganugerahkan hirarki episkopal kepada Gereja Katolik di Indonesia.  Sebagai ungkapan syukur atas 50 tahun Hirarki di Indonesia, Sidang Tahunan KWI 2010 menyetujui, agar setiap Keuskupan merayakan Ekaristi pada awal Januari 2011.

Hendaknya peristiwa iman tersebut dijadikan kesempatan melanjutkan penulisan Sejarah Gereja Katolik Indonesia, yang dilengkapi dengan sejarah-sejarah masing-masing Keuskupan. Naskah ”Merayakan 50 Tahun  Hirarki Gereja Katolik Indonesia, 3 Januari 1961-2011”, yang ditulis oleh Tim Penulisan Sejarah Keuskupan Bandung dapat membantu kita  mengenali pekerjaan-pekerjaan Allah melalui para misionaris perintis dan siapa pun yang terlibat dalam karya misi tersebut.

Sebenarnya tidak hanya dalam jumlah umat berkembang pesat yang menjadi alasan didirikannya Hirarki Gereja di Indonesia. Kemandirian Gereja Katolik Indonesia dalam tenaga pribumi (imam, biarawan-biarawati maupun awam) bisa diandalkan untuk mengembangkan Gereja masa depan semakin hidup, mengakar, mekar dan berbuah. Dengan demikian pengertian Gereja misi dipahami bukan sekedar sebagai penerima tenaga misionaris asing, tetapi sebagai Gereja yang mengutus penabur-penabur benih firman di wilayah-wilayah Nusantara sendiri, dan bahkan melintasi batas-batas tersebut menuju wilayah-wilayah yang semula mengirim misionaris ke Nusantara ini.

Pernah saya katakan dalam Surat Gembala pada Awal Tugas penggembalaan di Keuskupan Bandung, 20 Juli 2008, bahwa perutusan menabur benih yang baik di Tatar Sunda merupakan kelanjutan dari perintah Tuhan kita Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya di pantai danau Galilea,  “Bertolaklah ke tempat yang dalam….!” (“Duc in altum….!”, Lh. Luk 5:4) seperti  terlukis dalam lambang Uskup.

Kita percaya bahwa tempat yang dalam itu dapat kita temukan setiap kali kita masuk dalam misteri persatuan Allah dengan umat-Nya, yang kita alami setiap kali kita merayakan Ekaristi. Kita bersyukur dapat menyaksikan bergulirnya gerakan cinta Ekaristi, yang tampak pada kesediaan umat untuk semakin mencintai Yesus dalam Ekaristi, menjadikan-Nya sumber inspirasi bagi hidup dan pekerjaan sehari-hari. Sementara itu tumbuh pula kerinduan dalam hati umat untuk bersembah sujud mengadakan adorasi Ekaristi, bahkan adorasi Ekaristi abadi.

Dalam misteri Ekaristi itu pula kita hayati kehidupan Gereja kita sebagai persekutuan umat beriman, yang kita nyatakan dalam penerimaan komunio. Kita sadar betul bahwa komunio yang mempersatukan kita dengan Kristus dan sesama umat seiman itu juga menjadi daya kekuatan bagi kita untuk berbagi, karena tugas perutusan diamanatkan kepada kita, “Ite, missa est !”  Marilah pergi, kita diutus. Kita diutus untuk menaburkan benih firman dalam dunia yang lebih luas, melalui dialog dengan kenyataan masyarakat setempat.

Setelah selama tahun 2010 kita fokuskan perhatian kita pada pembangunan keluarga sebagai Gereja rumah tangga, selama tahun 2011 kita fokuskan perhatian kita pada pemberdayaan komunitas basis sebagai komunitas dinamis. Untuk itu perlu kita upayakan terus membangun komunitas yang hidup, agar umat beriman kepada Kristus menjadi semakin unggul dalam hidup bersaudara, mendalam dan terbuka dalam beriman, peduli pada lingkungan sekitar, berdasarkan nilai-nilai injili, dalam semangat kasih tanpa pamrih.  Perutusan tersebut dalam kenyataan sekitar kita berarti membangun komunitas dinamis dengan menghayati Yesus yang hidup dalam citarasa budaya setempat ‘silih asih, silih asuh, silih asah’,  mengembangkan hidup bertetangga yang ramah, peduli dan berjuang bersama mengatasi kemiskinan.

Mengakhiri Surat Gembala ini, saya mengucapkan terimakasih kepada Anda semua, para imam, biarawan-birawati, dan kaum awam: anak, remaja, orang muda dan dewasa, yang dengan berbagai macam cara yang sangat mengesankan, tetap mengobarkan api semangat yang telah kita nyalakan bersama. Marilah kita bangun Gereja Keuskupan ini – sesuai dengan semangat Peristiwa Pentekosta Baru di Lembang Bandung 1990 -  agar Gereja menjadi persekutuan umat beriman yang hidup (“a dynamic communion of communities, FABC 1990 di Lembang Bandung). Selama tinggal di Green House saya kerap bermimpi menyaksikan Keuskupan Bandung menjadi “Green Diocese”.

Saya mengucapkan selamat datang dan selamat bekerja kepada Mgr. Ignatius Suharyo, Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta, yang diutus oleh Bapa Benediktus XVI menjadi gembala umat Keuskupan Bandung.

Bersama dengan Santa Perawan Maria, bunda Allah dan bunda Gereja, marilah kita haturkan seluruh syukur dan terimakasih kita ini kepada Allah, Tuhan sejarah dan penyelenggara hidup kita, kepada Tuhan Yesus yang telah mempersatukan kita sebagai saudari dan saudara-Nya,  kepada Roh Kudus penghibur kita.

Semoga berkat Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus melimpah pada hidup saudari-saudara bersama keluarga dan/atau komunitas Anda.

Syukur dan terimakasih !

Salam, doa dan Berkat Tuhan,

Marilah pergi, kita diutus !

Bandung, 13 Desember 2010,
+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Bandung

Leave a Reply

Required fields are marked *.