Fiat Voluntas Tua

Beragama Dan Beriman

| 0 comments

“Ia adalah keturunan Abraham”

Beragama dan beriman adalah berbeda satu sama lain: orang beragama belum tentu beriman, sebaliknya orang beriman belum tentu beragama. Alangkah indahnya jika beragama sekaligus beriman! Cukup menarik dan memprihatinkan apa yang terjadi akhir-akhir ini perihal kekerasan agama yang dilakukan oleh oknum atau kelompok tertentu, antara lain peristiwa penusukan dan pemukulan pendeta serta penatua HKBP di Bekasi bulan lalu. Atas nama agama menyakiti orang lain itulah yang terjadi, entah itu disadari sepenuhnya oleh pelaku atau tidak atau pelaku hanya sekedar `wayang’ yang dimainkan oleh dalang tertentu.

Sabda Yesus hari ini mengritik orang-orang munafik, dimana orang berpegang teguh pada peraturan tanpa dijiwai oleh iman dan cintakasih. Kita semua mungkin mengakui diri sebagai umat beriman, namun apakah menghayati iman dengan benar kiranya merupakan pertanyaan. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, sehingga hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan yang utama adalah perintah untuk saling mengasihi satu sama lain.

Cintakasih mendasari aneka peraturan dan kebijakan atau tata tertib, sekaligus menjadi sasaran pelaksanaan peraturan, kebijakan atau tata tertib. Dengan kata lain cintakasih mengatasi dan mendasari aneka peraturan, kebijakan dan tata tertib. Maka ketika peraturan, kebijakan atau tata tertib, entah secara tertulis maupun pelaksanaannya, tanpa cintakasih, hendaknya tanpa takut dan gentar melawan atau melanggar peraturan, kebijakan atau tata tertib tersebut.

“Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu”(Ef 4:32), demikian saran atau ajakan Paulus kepada umat di Efesus, kepada kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus. Beriman kepada Yesus Kristus tidak identik dengan telah dibaptis dan dengan demikian secara formal beragama Katolik atau Kristen. Konsili Vatikan II (th 1965) antara lain telah mengimani bahwa mereka yang secara formal atau yuridis tidak percaya kepada Yesus Kristus, namun dari lubuk hatinya terdalam ada kerinduan akan Tuhan Allah yang menjadi nyata dalam perilaku yang baik dan berbudi pekerti luhur, maka yang bersangkutan ketika dipanggil Tuhan pasti hidup mulia kembali di sorga untuk selama-lamanya (lihat LG no 17). Maka marilah kita hayati ajakan atau saran Paulus di atas, yaitu “hendaknya kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni dalam hidup sehari-hari dimanapun dan kapanpun” . Ingatlah dan hayatilah bahwa masing-masing dari kita telah menerima keramahan, kasih dan pengampunan secara melimpah ruah antara lain dari orangtua kita masing-masing sebagai kepanjangan keramahan, kasih dan pengampun Allah. Maka tidak hidup dan tidak bertindak dengan ramah dan kasih pengampunan berarti mengingakari keramahan dan kasih pengampunan Allah yang kita terima melalui orangtua kita masing-masing. Marilah kita angkat tinggi-tinggi dan kubur dalam-dalam nama orangtua kita masing-masing (Jawa: mikul dhuwur, mendhem jero), artinya memuliakan orangtua dengan hidup dan bertindak dijiwai oleh iman, sehingga dimanapun dan kapanpun senantiasa bersikap ramah terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling menampuni. Marilah kita hidup saling ramah dan bermesra-mesraan.

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.” (Mzm 1:1-4)
Jakarta, 25 Oktober 2010 – I. Sumarya SJ

==============================================================================================

Bacaan Hari Ini Ef 4:32-5:8; Luk 13:10-17

“Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.” Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: “Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?” Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.”

Leave a Reply

Required fields are marked *.