Fiat Voluntas Tua

Tidak Melihat Namun Percaya

| 0 comments

“Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya”

Susah memang kalau diminta membuktikan tanpa melalui suatu proses. Diminta menunjukkan bukti bahwa kita bisa dipercaya, ya susah kalau maunya instan. Buktikan bahwa kita bisa dipercaya menjadi ketua lingkungan, ya lihat saja apakah tiga tahun kedepan bisa melakukan tugasnya. Coba buktikan kita bisa kerja sebagai bendahara proyek, ya sudah tunggu saja sampai proyek selesai apakah semuanya bisa dipertanggung-jawabkan. Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa anak-anak kita bisa dipercaya? Mungkin hanya hati kecil ibu yang bisa mengenali apakah anaknya ini benar-benar bohong apa hanya lip service. Semua itu awalnya adalah pasti dengan janji, promosi, provokasi atau kata-kata yang diucapkan terlebih dulu.

Trust atau kepercayaan antara dua belah pihak tidak dapat muncul dalam semalam,  kepercayaan satu sama lain dibangun sejalan dengan waktu, sejalan dengan semakin dalamnya suatu hubungan relasi satu sama lain. Mereka yang bersahabat karib sekian tahun belum tentu bisa jadi rekanan bisnis yang seiring, justru karena mereka mengenali mana yang bisa berjalan beriringan dan tidak. Demikian pula kita tidak bisa memaksakan seseorang langsung percaya pada kemampuan kita, kalau kita tidak pernah menunjukkannya, apalagi tidak meningkatkan kedalaman hubungan ke tingkat yang lebih erat dan lebih dalam. Hanya sebatas kenal nama, tidak lebih tidak kurang. Walaupun demikian hubungan masa lalu yang dipelihara paling tidak bisa menjadi modal dan bekal tumbuhnya benih kepercayaan. Oleh karenanya sulit sekali memperbaiki suatu hubungan yang pernah rusak karena hilangnya dan hancurnya kepercayaan seseorang akibat salah satu pihak menghancurkan harapan dan impian pihak lain.Jadi gimana dong? well… makanya jangan ringan kata, suka obral janji sehingga membuat kita sulit untuk dipercaya, tidak dapat dipegang kata-katanya. Mulai dari yang kecil-kecil deh, janji datang rapat kok terlambat gak kasih tahu lagi. Janji bayar hutang… wah lupa! Jadi tanpa melihat lagi, tanpa perlu waktu lebih lama lagi kepercayaanpun sudah keburu rusak dan hilang.

Itu kalau hubungan antar manusia, nah hubungan dengan manusia dan penciptanya itulah yang disebut IMAN – faith – percaya tanpa perlu melihat. Tanpa perlu bertemu. Dari tanda dan kejadian disekitar kita, kita bisa merasakan bagaimana sapaan Tuhan dalam kehidupan kita. Injil hari ini mengingatkan kita bagaimana kepercayaan kita pada Tuhan sungguh-sungguh harus dibangun dalam tingkat kedalaman dan kedekatan yang lekat satu sama lain. Sehingga walaupun tidak bertatap muka, belum pernah bertemu tapi kita percaya bahwa kita pasti diikat dengan perjanjian abadi. Tuhan telah membuktikan kasihNya pada kita dengan melimpahkan rahmatNya. Kita sendiri yang belum terbukti apakah sungguh dapat dipercaya dan konsisten memegang teguh janji permandian yang diucapkan dalam Sakramen Baptis.

Maka kalau saja kita menyadari kehadiran dan sapaan Tuhan melalui sakramen, maka kita akan tetap memlihara kepercayaan yang diberikan Tuhan tanpa melihat bukti-bukti yang ada. Sebaliknya kita justru didorong bahkan diberikan kemampuan untuk membuktikan bahwa kita dapat membuktikan bahwa janji tersebut ditepati. Demikian juga dengan sumpah jabatan dan janji dalam perkawinan, dimana kita menyertakan Allah didalamnya, kita perlu menanggapi tawaran yang diberikan Allah bahwa kita akan mampu menjaga sumpah dan janji yang diucapkan sehingga menjadi kenyataan.  Semoga kita senantiasa menanggapi tawaran Allah untuk memampukan diri kita bahkan melawan segala kelemahan diri dan mengijinkanNya bekerja dalam mewujudkan janji dan sumpah yang telah kita ucapkan.  Dengan demikian semua umat manusia bisa tetap percaya bahwa dunia dan habitus baru bisa dapat diciptakan disekitar kita.

===============================================================================================

Bacaan Injil Yoh 20:24-29

“Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Leave a Reply

Required fields are marked *.