Fiat Voluntas Tua

Sakit Tapi Tidak Merasa Sakit

| 0 comments

“Ia mengutus para murid mewartakan kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit.” – Padre Pio, Imam

Kalau diperhatikan di setiap tempat praktek dokter buanyak banget orang-orang pada antri. Yang sakit ditemani yang gak sakit, ada juga yang datang untuk mendapatkan kepastian bahwa ia sakit. Bukan rahasia kalau kita kadang merasa lebih pinter dari dokter. Sehingga sering kali kita pindah dari dokter yang satu ke dokter yang lain untuk memastikan bahwa pendapat kita bener… halaaah… Maka kalau ada yang gak yakin dan harus pergi dapat ’2nd opinion’ ke negeri jiran dirasakan sah-sah aja sih, lha mereka mampu kok?

Profesi dokter adalah profesi yang rumit dan untuk itu saya salut sekali buat para dokter. Mana masuk test dan sekolahnya susah minta ampuuuun,  mana muahaaal lagi. Nanti mau praktek juga gak bisa langsung, mesti ngantri… syukur kalau bisa gak mbayar. Salah diagnosai sedikiiiiit aja bisa fatal bahkan masuk kategori malpraktek. Duuh…Gak cuma itu tantangannya, sekarang ijin prakteknya pun dibatasi padahal kebutuhan dokter masih belum memenuhi perbandingan yang wajar seperti dinegara maju.

Untung aja belum semua orang sadar akan kesehatan dirinya karena kita memang saat ini kekurangan dokter buanyak banget. Tapi yang lebih pusing adalah menghadapi orang-orang yang kita tahu dia sakit, tapi gak merasa sakit. Ini paling memusingkan, karena treatment apapun tidak akan diterimanya. Apalagi kalau disuruh minum obat dan pantang segala macem. Untuk jenis seperti ini, tidak mungkin lah membawa mereka dengan mudah datang ke dokter. Harus dokternya lah yang datang mengunjungi mereka. Mana mungkin sih? maka gak heran kalau disekeliling kita masih buanyak orang-orang yang sebenarnya sakit tapi gak merasa sakit, dan membawa ‘virus’nya kemana-mana.

Injil hari ini menantang kita untuk mengikuti ‘dokter’ yang keliling kemana-mana mencari orang-orang sakit yang tidak merasa sakit. Memangnya mudah? Sudah sulit meyakinkannya, treatmentnya pun gak bisa sekali jadi. Harus berkali-kali dikunjungi, dengan sabar didengarkan dan dilayani. Tapi kalau kita sendiri sudah merasakannya, sudah pernah jadi ‘pasien’ ndableg seperti itu, yang pernah sakit parah tapi gak nyadar… dan akhirnya sembuh. Maka kita dengan tekun pasti juga akan melakukannya sebagai tanda wujud syukur kita pada sang Penyembuh. Yesus telah memanggil kita, Ia memberi kesempatan kita untuk menjadi ‘sembuh’ dengan meninggalkan dosa-dosa kita. Ia telah menggantikan dosa kita dengan darahNya sendiri.

Mari kita lakukan dengan tulus, dengan tidak mengandalkan apa-apa kecuali mengandalkan rahmatNya, Ijinkan Dia yang bekerja melalui ketulusan dan karya kita. Injil harus diberitakan agar semakin banyak yang menerima Kabar Baik, yang diselamatkan dan disembuhkan. We got it free from Him, let’s give it free to others.

==============================================================================================

Bacaan Injil Lukas (9:1-6)

Sekali peristiwa Yesus memanggil keduabelas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Ia mengutus mereka untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang. Yesus berkata kepada mereka, “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan. Jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. Apabila kalian diterima di suatu rumah, tinggallah di situ sampai kalian berangkat dari situ. Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kalian, keluarlah dari kota mereka, dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.” Lalu pergilah mereka, dan menjelajah segala desa, sambil memberitakan Injil serta menyembuhkan orang sakit di segala tempat.

Leave a Reply

Required fields are marked *.