Fiat Voluntas Tua

Sarang Penyamun

| 0 comments

Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.

Apa yang terlintas dalam pikiran kita saat menyebut “Gedung DPR” adalah memori hasil liputan media elektronik. Ada gambar anggota DPR sedang membaca koran, tidur, bahkan SMSan diantara bangku-bangku yang lebih sering kosong saat sidang komisi. Lho, katanya Gedung DPR itu tempat wakil rakyat bersidang dan membela kepentingan rakyat tapi kenyataannya masih banyak rakyat miskin dan kelaparan tidak diperjuangkan nasibnya. Banyaknya anggota DPR terlibat skandal korupsi dll, ditambah lagi permintaan anggota DPR untuk kenaikan anggaran rumah tangga dan biaya renovasi gedung menunjukkan bahwa tempat wakil rakyat ini berubah menjadi sarang penyamun yang kurang peka dengan keadaan rakyat. Lalu bagaimana mengubahnya kembali menjadi tempat wakil rakyat? Jangan-jangan kita juga yang salah pilih atau tidak perduli dengan hak pilih kita juga.

Injil hari ini mengingatkan bahwa Yesus pun marah terhadap beralih fungsinya Bait Allah menjadi sarang penyamun. Bait Allah yang di bangun dengan maksud untuk mendekatkan manusia pada Yahwe, berubah menjadi profan karena para imam dan ahli taurat melihat ‘peluang’ bisnis disana. Aturan agama Yahudi tidak boleh menggunakan uang bergambar manusia sebagai persembahan, maka orang-orang yang datang dari berbagai tempat harus menukarnya dengan uang Yahudi yang berlaku. Selain itu menjelang Paskah dimana umat harus membawa hewan kurban, ada syarat yang harus dilalui agar kurban tersebut bersertifikat kosher atau halal. Daripada repot bawa hewan dan belum tentu lolos sertifikasi, lebih baik beli di tempat dan sudah pasti ‘kosher’. Sudah pasti dijual dengan harga lebih tinggi dari nilai pasar karena sudah ‘bersertifikat’ dari Majelis Imam Bait Allah. Praktek alih fungsi yang dilakukan para imam inilah yang di jungkir balikkan Yesus. Sesuai dengan aturan Yahudi para imam sudah mendapatkan bagiannya dari persembahan jemaat, tapi masih mencari ‘extra’ dengan mengkomersialisasikan Bait Allah.

Kita sendiri perlu merefleksikan kehidupan kita dan tubuh kita sendiri apakah sungguh menjadi rumah doa, tempat kita mensyukuri rahmat Allah. Sudahkah kita gunakan bagi tempat perjumpaan dengan Allah, atau juga dieksploitasi habis-habisan demi uang, karir dan gengsi demi egoisme pribadi. Mungkin lebih baik kehidupan demikian yang serupa sarang penyamun dijungkir balikkan Tuhan sesaat, agar bisa kembali berfungsi menjadi rumah doa kembali.

Kembali kepada para penyelenggara rumah ibadat, para pengurus Dewan Paroki, petugas liturgi juga pengurus institusi dan ormas katolik perlu kembali menyadari esensi dasar dalam karyanya. Apakah membawa umat menjadi lebih dekat pada Tuhan? atau justru menjadi tempat ‘ladang’ bisnis baru dengan mengesampingkan kesempatan bagi mereka yang miskin dan tersisihkan? Kalau sudah begini memang harus di ‘reengineering’ bahkan dilakukan transformasi perombakan operasional agar kembali kepada misi awalnya.

Semoga kita senantiasa mengandalkan pimpinan Roh Kudus agar tetap berani menata ulang kembali kehidupan iman yang morat marit akibat keinginan mata dan perut, agar kembali murni dan sejalan dengan panggilan Tuhan. Dengan demikian berkurang lah seorang penyamun dari Rumah Doa.

=====================================================================

Bacaan Luk 19:45-49

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun. “Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

Leave a Reply

Required fields are marked *.