Fiat Voluntas Tua

Naik Gunung, Turun Gunung

| 1 Comment

“Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”

Untuk suami dan sekar si bungsu, perjalanan menuju Villa di Cipanas menjadi ritual penting yang begitu menggairahkan mereka. Kalau perlu berangkat pagi pulang sore, atau berangkat malam pulang besoknya juga dilakoni walau hanya pergi berdua saja. Maunya tiap minggu naik ke gunung, tapi karena ada tugas di gereja dan kegiatan lain tidak bisa sesering itulah. Padahal di ‘rumah gunung’ juga praktis tidak ada yang dikerjakan selain menikmati pemandangan alam, menghirup udara segar dan mandi air gunung. Saat turun gunung untuk pulang, mereka menjadi semangat lagi seperti baru di ‘charge’.

Hal serupa sering terjadi saatkita mengikuti retret atau rekoleksi, yang biasanya diadakan diluar kota, keluar dari rutinitas sehari-hari. Kita naik ke gunung, meninggalkan kehidupan sehari-hari untuk bertemu Tuhan. Bukan berarti Tuhan hanya ada di atas gunung, tapi suasana keseharian membuat kita sulit menyadari dan menikmati kebersamaan denganNya. Saat retret dan rekoleksi seharusnya dihayati dan digunakan sebaiknya untuk merenungkan SabdaNya, untuk melihat kembali kehadiran dan penyertaan Tuhan dalam keseharian kita. Menyadarkan kita kembali bagaimana Tuhan menyapa kita melalui berbagai cara, lewat sapaan orang lain, SMS, email bahkan kejadian-kejadian yang kita pikir ‘kebetulan’pun sebenarnya Sang Immanuel ada bersama kita. Bila sungguh dihayati maka saat mengikuti Misa di retret itu sungguh berbeda dari yang biasanya kita hadiri. Bukan Tuhannya yang berbeda disaat itu, tapi hati kita lebih siap dan terbuka untuk menerima, ‘melihat’ dan menikmati kemuliaan Tuhan.

Maka penting sekali kita menyempatkan diri untuk menyingkir dari kesibukan duniawi untuk menyadari kehadiran Allah dalam hidup kita. Setahun sekali atau dua kali, bahkan tiga bulan sekali tidak akan membuat kita sakit. Tapi ‘retret’ pendek harian perlu dibiasakan di awal atau di akhir keseharian kita. Bukan Tuhan yang perlu tapi kita yang masih hidup di dunia yang lebih membutuhkan penyertaanNya menghadapi tantangan kehidupan dari hari ke hari.

Di saat kita ‘turun gunung’ kembali kepada kesibukan sehari-hari, kita yang telah ‘disegarkan’ dan dipulihkan, selayaknya juga membawa serta kemuliaan Tuhan melalui tutur kata, tindakan dan pemikiran yang telah diperbaharui. Kalau ini tidak terjadi, berarti memang retret dan rekoleksi tadi hanyalah sekedar refreshing dan liburan semata. Layaknya seperti Ziarek yang biasanya lebih banyak rekreasinya daripada saat doanya; lebih banyak hura-hura, jalan-jalan cuci mata dan menikmati makan enak daripada saat kontemplasi dan silentium. Biarpun dilakukan setiap bulan bahkan sampai ke luar negeri, tidak ada artinya kalau tidak membawa perubahan perilaku bagi kita sebagai pengikut Kristus.

Maka bila Yesus hanya mengajak tiga dari dua belas muridNya, tentu Ia berharap tim inti inilah yang akan menjadi jantung nya karya pekabaran Injil selanjutnya. Mereka diharapkan menjadi para rasul pembaharu dan pendobrak serta pembuka jalan keselamatan bagi dunia. Memang tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan untuk ‘naik gunung’ dan mengalami kemuliaan Tuhan. Tapi alangkah baiknya yang sedikit dan terpilih itu juga mengalami pembaharuan dalam keseluruhan hidupnya setelah bertemu dan menikmati kemuliaan Tuhan. Sehingga kitapun yang telah mendengar Sabda Tuhan juga melakukanNya; siap untuk menjadi rasul-rasul yang membawa terang kemuliaan Tuhan begitu ‘turun gunung’ menapaki kehidupan kita selanjutnya.

Mari kita ambil keputusan untuk menyediakan diri dan memberi waktu untuk mundur dari kesibukan sehari-hari kita, untuk retreat, dengan hati yang sungguh siap untuk menerima SabdaNya dan diubahkan Tuhan agar layak membawa terang kemuliaanNya. Ad Maiorem Dei Gloriam

====================================================================

Bacaan Mat 17:1-9

“Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Mendengar itu tersungkurlah murid-murid- Nya dan mereka sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: “Berdirilah, jangan takut!” Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: “Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”

One Comment

  1. Nice Article…
    Salam kenal, Bunda Maria Bless You & Family

Leave a Reply

Required fields are marked *.